KKP Terus Menyempurnakan Plastik Biodegradable dari Rumput Laut

Pertanianku — Permasalahan sampah plastik masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan dengan cara yang tepat dan solutif. Saat ini pembatasan penggunaan kantong kresek sudah mulai diterapkan oleh swalayan-swalayan besar. Namun, upaya tersebut masih perlu didukung dengan cara lain yang dapat membuat pencemaran plastik terus menurun. Salah satu cara yang sedang diupayakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah pengembangan plastik biodegradable yang terbuat dari rumput laut.

Plastik Biodegradable
foto: Pixabay

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti, mengungkapkan, jajarannya telah membuat kemasan berbasis rumput laut sejak 2016. Kemasan tersebut berbentuk edible film dan edible coating. Selanjutnya, pada 2019, PDSPKP berhasil membuat kemasan biodegradable.

“Kita juga telah melakukan transfer teknologi kemasan rumput laut kepada beberapa pelaku usaha antara lain UKM Pusaka Hati (Mataram), UKM Setiabudi (Lombok Tengah), Mina Horti (Lombok Timur), UKM Saluyu (Sukabumi), dan CV Panda Food (Sleman),” terang Artati seperti dilansir dari laman kkp.go.id.

Artati melanjutkan, UKM Pusaka Hati telah memproduksi kemasan biodegradable secara massal yang bernama Seaweed Bag. Sementara itu, UKM lain menggunakan edible coating untuk kemasan dodol rumput laut.

Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP), UPT Ditjen PDSPKPP telah menggandeng tim peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran untuk mengembangkan kemasan dari rumput laut. Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya mengganti kemasan plastik yang selama ini digunakan masyarakat.

“Kita berdiskusi dalam pengembangan kemasan biodegradable berbasis rumput laut yang terjangkau dan bisa diterapkan secara masif,” kata Artati.

Kepala BBP3KP, Widya Rusyanto, mengungkapkan, beberapa aspek perlu ditingkatkan pada kemasan dari rumput laut ini. Aspek tersebut di antaranya teknik pencetakan, teknik pengeringan, serta karakteristik kemasan dalam menahan laju transmisi uap air.

Baca Juga:  Perkembangan PMK Hewan Ternak di Indonesia Saat Ini

“Penyempurnaan kemasan ramah lingkungan tentu bukan pekerjaan yang mudah jika hanya dilakukan oleh satu institusi saja, sehingga dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak,” ujar Widya.