Kopi Solok Radjo, Hasil Inovasi Milenial untuk Kesejahteraan Petani

Pertanianku — Pernah dengan tentang kopi Solok Radjo? Kopi ini semakin dikenal di kalangan penikmat dan pencinta kopi. Rasanya segar seperti lemon, sedikit manis, dan sensasi pahit tetap ada menjadi ciri khas kopi Solok Radjo. Kopi ini juga menjadi buruan di banyak tempat. Bahkan, penikmat kopi di Amerika Serikat (AS) sudah membidik kopi Solok Radjo.

kopi Solok Radjo
Foto: Pixabay

“Kami semua berangkat dari kesejahteraan petani kopi Solok yang tidak bagus dan harga kopi yang terlalu murah,” kata Teuku Firmansyah, Bendahara dan Bagian Promosi/Penjualan Koperasi Produsen Serba Usaha (KPSU) Solok Radjo, seperti dikutip Republika.

Belakangan ini, petani seperti kehilangan minat untuk menanam kopi. Bagi mereka, kopi tidak lagi menarik untuk dikembangkan dan akibatnya banyak pohon kopi yang ditebang.

Loading...

Teuku menyebut, sebelum para petani dibina, harga ceri merah (biji kopi selepas panen tanpa diproses) hanya Rp2.000 per kg. Para pembeli ini pun memosisikan dirinya sebagai yang tidak butuh, petani yang membutuhkan mereka. Bahkan, kata Teuku, saat panen raya, harga jual ceri merah itu bisa lebih murah lagi. Artinya, harga kopi ceri merah per kg hanya Rp1.500.

“Petani dapat apa?” kata Teuku.

Untuk green beans (GB, biji kopi hijau) harga per kg antara Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Green beans merupakan biji kopi hijau yang setelah dipanen diolah melalui beberapa metode. GB  ini untuk bisa dikonsumsi harus disangrai/dipanggang terlebih dahulu untuk kemudian menjadi beans (biji kopi siap konsumsi).

Situasi sulit ini berlangsung sejak sebelum 2014. Teuku memaparkan ada beberapa persoalan mendasar yang menyebabkan harga kopi Solok Radjo murah dan petani tidak sejahtera.

Pertama, rantai penjualan yang begitu panjang. Hal ini membuat harga menjadi murah di tingkat petani dan mahal di tingkat pengecer. Kedua, standar produksi yang belum ada. Dalam hal ini, kualitas kurang baik. Kalau diproses baik pun harga tetap murah, dibeli oleh pedagang di pasar-pasar tradisional.

Baca Juga:  Panduan Mudah Penggunaan Pupuk dan Pestisida

Ketiga, belum adanya branding kopi Solok itu sendiri. Dan terakhir, belum ada sebuah lembaga yang ikut berperan dalam mengedukasi secara teknis budidaya kopi agar produktivitas buah kopi baik juga.

Menjawab tantangan-tantangan ini, anak-anak muda Solok dimotori Alfadrian Syah (32 tahun), Teuku Firmansyah, Wiwin Sebagia (33 tahun), dan lain-lainya, mencoba membuat beberapa upaya dan terobosan. Salah satu cara yang paling cepat saat itu, kata Teuku, menjual langsung kopi Solok ke coffee shop.

“Kami juga melakukan perbaikan kualitas pascapanen, dan membuat beberapa varian produk,” kata Teuku.

Mereka juga mem-branding produk kopi Solok agar mudah dikenal dan diingat. Tujuan lainnya, agar awarenees konsumen semakin tinggi atas kehadiran kopi Solok. Langkah yang tak kalah pentingnya, Teuku menegaskan, mereka membentuk Koperasi Produsen Serba Usaha Solok Radjo. KPSU Solok Radjo saat ini diketuai Alfadrian Syah.

Teuku mengatakan KPSU berdiri pada 2014 dan baru berbadan hukum pada 2016. Embrio awalnya, pergerakan pengembangan kopi Solok yang dimulai pada 2012.

“Karena semakin banyak yang bergabung, maka pada 2014 kita sepakat membuat koperasi. Karena dengan berkoperasi semua bisa ikut dan mendapat kesejahteraan bersama juga,” kata Teuku.

Terobosan dan inovasi yang dibuat KPSU ini pun berbuah manis. Harga ceri merah yang sebelumnya dibeli sangat murah, kini naik ratusan persen menjadi Rp8.000 sampai Rp9.000 per kg. Untuk harga GB yang tadinya tidak sampai Rp40 ribu per kg, kini antara Rp90 ribu sampai Rp140 ribu per kg.

Merek kopi Solok Radjo pun semakin kuat. Produknya diburu tidak hanya di seputaran Solok, Padang, dan kota-kota lainnya di Sumatera, Kopi Solok Radjo sangat diminati di Jakarta dan luar negeri.

Baca Juga:  Cara Pembuatan Kompos dengan Aktivator Fix-Up Plus
Loading...
Loading...