Kultur Jaringan untuk Mengatasi Kelangkaan Benih Porang

Pertanianku — Saat ini budidaya porang semakin diminati masyarakat Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh nilai ekonomi umbi-umbian ini yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sayangnya, tingginya minat masyarakat untuk budidaya porang tidak didukung dengan persediaan benih porang yang mencukupi. Akibatnya, harga benih porang menjadi cukup mahal.

benih porang
foto: Pertanianku

Biasanya, petani menggunakan katak/bulbil atau biji pada bunga porang sebagai benih. Namun, ternyata cara tersebut masih dinilai kurang efektif karena permintaan benih cukup banyak. Untuk menjaga kualitas dan menjamin ketersediaan benih, kini benih porang akan diperbanyak dengan teknik kultur jaringan.

Dilansir dari laman litbang.pertanian.go.id, peneliti ahli utama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Ika Roostika Tambunan mengatakan bahwa porang termasuk jenis umbi-umbian bernilai ekonomi tinggi. Umbi ini biasa diekspor dalam bentuk chips ataupun tepung.

Ika menjelaskan, saat ini tanaman porang sedang banyak diminati oleh petani karena tingginya jumlah permintaan. Kondisi tersebut menyebabkan benih porang menjadi sangat langka.

Biasanya, benih-benih alami yang diambil dari umbi dan katak/bulbil harganya hanya sekitar Rp150—Rp400 ribu/kg. Untuk memenuhi kebutuhan lahan satu hektare, petani membutuhkan benih sebanyak 200 kg. Artinya, petani perlu mengeluarkan modal sekitar Rp30—Rp80 juta hanya untuk benih.

“Perbanyakan benih porang biasanya menggunakan katak/bulbil. Ketika kebutuhan benih tidak dapat terpenuhi secara konvensional, harus ada sentuhan teknologi dalam hal ini adalah kultur jaringan,” ujar Ika.

Ika menjelaskan, kultur jaringan merupakan teknik mengisolasi bagian tanaman berupa sel telanjang, sel, jaringan atau organ secara aseptis dan ditumbuhkan secara in vitro (di dalam botol) hingga membentuk planlet atau tanaman utuh.

“Perbanyakan melalui kultur jaringan memiliki keunggulan karena bisa dilakukan secara massal dalam waktu cepat, tidak tergantung pada musim, menghasilkan bibit sesuai dengan induknya, seragam, bebas hama, dan penyakit, serta mudah untuk didistribusikan (khusus dalam bentuk planlet). Di samping itu, karena adanya zat pengatur tumbuh pada saat ditumbuhkan secara in vitro, maka pertumbuhan juga menjadi lebih cepat,” papar Ika.

Baca Juga:  Upaya KKP untuk Menyelamatkan Ikan Terubuk yang Terancam Punah

Pada kesempatan yang sama, Dahlan Iskan, Dewan Pertimbangan Perkumpulan Petani Porang Nusantara (PPPN) sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh BB Biogen untuk memperbanyak benih porang dengan kultur jaringan guna mengatasi kelangkaan benih.