Kunci Sukses Kenaikan Hasil Petambak Udang di Indramayu

Pertanianku — Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Sari yang sudah berdiri sejak 2012 kini mulai mengembangkan tambak intensif di atas lahan seluas 5 hektare. Di atas lahan tersebut terdapat 12 kolam yang terdiri atas 4 kolam berukuran 3.500 m2 dan 8 kolam berukuran 1.500 m2.

tambak intensif
foto: pixabay

“Alhamdulillah dengan menggunakan tambak sistem intensif hasilnya bisa meningkat,” ujar Fatah Aliudin, salah satu anggota Pokdakan Sari seperti dikutip dari laman kkp.go.id.

Fatah menjelaskan, sebelumnya pernah menggunakan tambak tradisional dengan padat tebar sekitar 70—80 m2 dapat menghasilkan udang sebanyak 5 kuintal sampai 1 ton per hektare setiap satu siklus. Ukuran udang yang dihasilkan sekitar 80 dengan nilai ekonomi sekitar Rp60 juta.

Saat ini dengan tambak sistem intensif pembudidaya udang dapat menghasilkan udang berukuran 40 dengan tingkat produksi yang mencapai 12 ton hektare per hektare setiap siklusnya. Keuntungan yang didapatkan pun meningkat menjadi Rp960 juta.

“Syukur Alhamdulillah dengan beralih ke tambak intensif, hasil produksi kami bisa meningkat, otomatis pendapatan dan untung kami juga meningkat,” ungkap Fatah.

“Ke depan kami akan mengembangkan tambak intensif kembali seluas 5 hektare dan harapan kami adanya bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan seperti berupa kincir, pompa, genset, benur, atau pakan,” sambung Fatah.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menjelaskan, saat ini udang menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan dan kelautan yang sedang dikembangkan.

“Kita akan kejar terus produksi udang. Dan untuk mencapai produksinya, maka kami terus mensosialisasikan dan menggaungkan budidaya udang sistem intensif. Oleh karena itu, KKP menyiapkan strategi peningkatan produksi udang nasional, yakni melalui intensifikasi teknologi. KKP juga mendorong tambak tradisional untuk di-upgrade teknologinya sehingga memiliki produktivitas optimal,” papar Slamet.

Baca Juga:  KKP Dorong Riset Limbah Pengolahan Rumput Laut

Selain penerapan teknologi, Slamet menilai bahwa aspek lingkungan menjadi faktor utama yang wajib diperhatikan. Pasalnya, faktor tersebut dapat berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan pembudidaya. Oleh karena itu, butuh adanya ketersediaan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang efektif dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dalam budidaya udang, apalagi yang sudah menerapkan teknologi intensif.