Langkah Mudah Budidaya Kale Organik

Pertanianku — Kale termasuk jenis sayur impor yang disukai oleh orang Indonesia. Saat ini kale masih termasuk jenis sayur eksklusif karena hanya tersedia di pasar-pasar tertentu. Menanam kale sebenarnya tidak begitu sulit, hampir sama seperti jenis sayuran yang lain. Menanam kale tanpa pupuk kimia juga bisa Anda lakukan. Budidaya kale organik bisa menjadi salah satu pilihan untuk Anda coba.

budidaya kale organik
foto: pixabay

Benih yang digunakan untuk memperbanyak tanaman kale berasal dari hasil setek atau menggunakan bibit yang dibeli. Keberhasilan tumbuh benih yang berasal dari bibit setek terbilang lebih kecil, yakni hanya sekitar 60—70 persen. Namun, setidaknya dengan menggunakan bibit sendiri Anda sudah bisa mengurangi ketergantungan impor.

Bibit kale dari setek memiliki beberapa keunggulan dibanding bibit yang berasal dari biji. Keunggulannya adalah sifat bibit sama seperti sifat induknya. Sementara itu, bibit yang berasal dari biji belum tentu 100 persen sama seperti induknya. Hal ini karena biji tersebut bisa jadi dihasilkan dari penyerbukan silang secara acak.

Karena menuruni sifat induk tanaman, Anda perlu mengambil bibit setek dari sayur kale yang berkualitas dan sehat. Penggunaan bibit setek tentunya dapat menjadi alternatif bibit murah tapi tetap berkualitas.

Kale yang bagus untuk dijadikan induk minimal sudah berumur 4 bulan. Saat itu, tanaman sudah cukup besar untuk disetek dan tunasnya akan menjadi bibit baru. Pilih tunas yang masih sehat dan tumbuhnya ke atas. Potong tunas dengan alat pemotong yang sudah steril dengan alkohol.

Setelah tunas terpotong, tanam setekan sepanjang 1 cm di media tanam yang terdiri atas campuran sekam dan bokashi dengan perbandingan 1:1.

Tanaman kale perlu disiram air sebanyak 250 ml setiap musim kemarau. Sementara itu, pada musim hujan volume penyinaran bisa dikurangi menjadi setengahnya apabila tanaman berada di bawah naungan.

Baca Juga:  Manfaat Beras Basmati untuk Kesehatan Tubuh

Titik kritis tanaman berada saat usia 5—7 hari pascasetek. Tanaman tidak boleh terlalu banyak menerima air karena akan menyebabkan bibit setek gagal tumbuh. Sementara itu, kekurangan air bisa menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih lambat. Setelah melewati 10 hari pascasetek, bibit sudah bisa dikatakan berhasil tumbuh. Bibit akan mengeluarkan akar dan daun baru, sedangkan daun lamanya akan menguning dan rontok.

Tanaman yang sudah berumur 3—4 pekan sudah bisa dipindahkan ke lahan. Berikan MOL agar pertumbuhan tanaman kale semakin subur. Tambahkan juga pupuk kandang sebanyak segenggam untuk satu tanam tiap minggunya. Pupuk kandang tersebut bisa berupa campuran pupuk kandang, sapi, kambing, dan ayam dengan jumlah perbandingan yang sama.

Selama budidaya kale organik, Anda perlu waspada dengan serangan hama aphid. Gunakan pestisida bawang putih untuk membasmi hama aphid. Selain itu, waspada juga terhadap ulat grayak yang bisa diatasi dengan semprotan fermentasi daun mimba.