Langkah Mudah Budidaya Serai Wangi

Pertanianku — Tanaman serai wangi relatif mudah dibudidayakan karena tanaman ini mampu tumbuh di berbagai jenis tanah. Budidaya serai wangi dapat menjadi salah satu peluang usaha yang cukup menjanjikan, mengingat tingginya angka permintaan terhadap minyak serai wangi di tingkat dunia.

budidaya serai wangi
foto: pixabay

Budidaya serai wangi dapat dilakukan pada dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian maksimal sekitar 2.500 m dpl. Daerah yang paling cocok untuk menanam tanaman ini ialah tempat terbuka dengan intesitas cahaya sekitar 75—100 persen. Tanaman bisa ditanam pada daerah dengan topografi datar hingga berlereng secara polikultur.

Pada dasarnya tanaman ini mampu tumbuh di berbagai jenis tanah, tetapi tanaman lebih mudah tumbuh subur di tanah yang gembur hingga liat dengan pH sekitar 5,5—7,0.

Perbanyakan tanaman serai wangi dapat dilakukan dengan cara setek anakan. Caranya, rumpun yang berukuran besar dipecah untuk mendapatkan anakan. Selain itu, perbanyakan juga bisa dilakukan dengan menggunakan kultur jaringan yang diambil dari bagian akar dan tunas ketiak.

Tanah yang akan digunakan untuk budidaya perlu diolah terlebih dahulu dengan cara mencangkul tanah sedalam 30 cm dan membuang gulma yang tumbuh. Setelah itu, buatlah guludan berukuran panjang 120 cm dengan tinggi 30—40 cm. Gunakan jarak tanam antarlubang tanam sekitar 100 × 100 cm, sedangkan pada tanah yang kurang subur bisa menggunakan jarak tanam sekitar 75 cm × 75 cm. Ukuran lubang tanam yang dapat dibuat sekitar 30 × 30 × 30 cm.

Sebelum menanam bibit serai wangi, Anda perlu memberikan pupuk kandang sebanyak 1—2 kg/rumpun. Setiap satu lubang tanam dapat digunakan untuk menanam anakan sebanyak 1—2 anakan. Setelah bibit berumur 1—2 minggu setelah tanam, Anda perlu melakukan penyulaman pada benih yang mati. Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan agar pertumbuhan benih tidak terganggu.

Baca Juga:  Trik Mempertahankan Rasa Manis Jambu Air Khiojok

Berikan pupuk susulan setelah tanaman berumur 1 bulan. Pupuk yang digunakan berupa 100—150 kg urea, 60—90 SP36, dan 100—150 KCL per hektare. Jumlah dosis pupuk disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan. Pemupukan dilakukan sebanyak 3 kali pada saat tanaman berumur 1 bulan, 6 bulan, dan 9 bulan.

Pada tahun pertama tanaman perlu diberikan pupuk kandang sebanyak 40 ton/hektare dan tahun-tahun berikutnya diberikan sebanyak 20 ton/hektare.