Langkah Mudah Budidaya Tanaman Matoa

Pertanianku — Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman khas Papua dan termasuk famili Sapindaceae. Saat ini buah matoa sudah mulai populer di kota-kota besar, seperti di Jabodetabek. Tanaman matoa membutuhkan iklim dengan curah hujan lebih dari 1.200 mm per tahun dan termasuk tanaman dataran menengah.

Tanaman matoa
foto: pertanianku

Tingginya minat masyarakat terhadap buah matoa membuat budidaya matoa menjadi semakin potensial. Pasalnya, selain penghasil buah, kayu matoa juga bisa digunakan sebagai bahan mebel atau kusen rumah.

Tanaman matoa sangat mudah dibudidayakan dan bisa ditanam sebagai tanaman hias di depan rumah atau taman. Matoa bisa dijadikan sebagai tanaman peneduh di tepi jalan atau ditanam di lahan-lahan bekas tambang untuk menghijaukan area tersebut. Untuk Anda yang mulai tertarik membudidayakan tanaman matoa, simak ulasan berikut.

Ketahui terlebih dahulu tujuannya

Apabila Anda ingin membudidayakan matoa sebagai penghasil buah, Anda harus menggunakan jarak tanam minimal 5 m × 5 m sehingga tanaman tidak cepat tumbuh tinggi dan bisa tumbuh melebar. Dengan demikian, proses panen bisa berlangsung dengan mudah.

Jika Anda ingin mendapatkan kayunya, jarak tanam yang dibutuhkan lebih rapat sekitar 3 m × 3 m untuk mendorong pertumbuhan tumbuh lurus ke atas dan mengurangi cabang-cabang ke samping.

Namun, bila Anda ingin mengambil kedua manfaat, yaitu buah dan kayu, jarak tanam yang diambil adalah 4 m × 4 m.

Persiapan lahan

Buat lubang tanam berukuran 40 cm × 40 cm × 40 cm. Campur tanah galian dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 3–5 kg dan pupuk NPK 100 gram, lalu kembalikan sebagian ke dalam lubang tanam.

Penanaman

Siapkan bibit matoa yang sudah tumbuh setinggi 30–40 cm, lalu padatkan media dalam polibag sebelum polibag dilepas. Selanjutnya, tanam bibit ke dalam lubang tanam, lalu tutup dengan tanah yang sudah dicampur pupuk kompos dan NPK. Setelah itu, padatkan media di sekitar pangkal batang bibit matoa. Bila terlalu asam, Anda bisa menaburkan kapur per tanaman 0,5 kg setelah bibit ditanam.

Baca Juga:  ALGOA Indonesia, Forum Jaringan Pemerintah Daerah untuk Mengembangkan Pertanian Organik

Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan yang perlu dilakukan adalah penyulaman, penyiangan gulma, serta pengendalian hama dan penyakit. Sebetulnya, hingga saat ini belum ada laporan mengenai hama dan penyakit serius yang menyerang tanaman matoa.