Laut Konawe Utara Tercemar Limbah Nikel Mentah, Nelayan Sengsara


Pertanianku Limbah nikel mentah (ore) di Mandiodo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara membuat laut jadi memerah. Tak pelak, orang Bajo yang hidup bergantung pada laut tertimpa masalah, air tercemar dan biota laut pun semakin sulit.

limbah nikel mentah
Google Image

“Apa yang terjadi di Mandiodo tidak bisa dipungkiri adalah pencemaran lingkungan”  kata Aminoto, Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Tenggara, dikutip dari Mongabay Indonesia.

Menurutnya, proses pengelolaan pertambangan tak sejalan dengan aturan. Jarak tambang dengan laut sangat dekat hingga mudah mencemari laut.

“Konawe Utara, memang dekat dengan bibir pantai. Abrasi itu pasti terjadi, terlebih di musim hujan,” ujar Aminoto.

Ia mengungkapkan, adanya tambang di gunung menyebabkan laut tercemar. Saluran air tidak disiapkan perusahaan. Seharusnya, menurut dia, saluran air dibuat sesuai ketentuan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

“Kan dalam dokumen amdal jelas harus ada saluran air sebelum tambang,” katanya.

Aminoto menjelaskan, untuk mengantisipasi pencemaran laut, harus dibangun pohon pelindung dan bak penampungan air guna mengatur sirkulasi air limbah olahan nikel.

“Hal itu tidak disiapkan perusahaan hingga sekarang,” ungkapnya.

Sementara itu, akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluole, Emiyarti mengatakan, limbah tambang juga berpengaruh bagi ekosistem laut karena mengandung logam berat.

“Tak sesuai lagi dengan kondisi lingkungan sebelumnya. Populasi ikan menurun dan hilang. Ini berbahaya dan beracun dalam jumlah besar atau dalam bentuk tertentu,” katanya.

Peneliti kesehatan ikan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Indriyani Nur menjelaskan, pencemaran lingkungan logam berat terus-menerus mengakibatkan kesehatan ikan terganggu. Logam berat seperti nikel atau merkuri mengendap pada tubuh ikan dan kala dikonsumsi bisa jadi penyakit. Logam berat ini menyerang bagian vital ikan, yaitu insang, hati, dan reproduksi.

Baca Juga:  Petani dan Nelayan Dibantu FAO untuk Bangkit Pascagempa

“Untuk reproduksi mengancam populasi ikan. Ini juga berbahaya. Ikan akan pergi meninggalkan daerah awal, apalagi jika membawa logam berat tadi,” tukas Indri.

Sebaran potensi nikel di Konawe Utara seluas 82.626,03 hektare dengan cadangan nikel 46.007.440,652 ton. Jumlah sebesar ini khawatir merusak lingkungan jika tata kelola pertambangan tak sesuai aturan.

“Tak sesuai tata kelola pertambangan oleh perusahaan pemegang IUP di Konawe Utara, mengisyaratkan ada pelanggaran. Ada manajemen pertambangan yang baik dari Dinas Lingkungan Hidup namun tak dijalankan,” kata Kisran Makati, Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan temuan Walhi, banyak masalah lingkungan terjadi seperti pencemaran pesisir pantai dan reklamasi bekas tambang tak berjalan.

“Tambang harus dihentikan,” tegas Kisra.