Limbah Jamur Tiram Diolah Jadi Energi, Apa Bisa?


Pertanianku – Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat banyak orang menciptakan inovasi terbaru. Salah satunya yang dilakukan Tim Iptek bagi Masyarakat (IbM) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) yang mengenalkan teknologi untuk mengolah limbah jamur tiram.

Tim Iptek tersebut mengajarkan pengolahan limbah baglog menjadi pupuk kompos dan biobriket kepada warga Desa Demangrejo, Sentolo. Tim tersebut terdiri atas Awan Setya Dewanta, Prof. Edy Suandi Hamid, dan Ari Rudatin.

Walau masih mengembangkannya dalam skala kecil dan memakai waktu di luar budidaya padi dan bawang, pendapatan tambahan jamur tiram telah dirasakan, mengingat budidaya jamur dapat dilakukan kapan saja dan relatif mudah, serta tidak membutuhkan lahan luas.

Menurut Ari Rudatin, teknologi pengolahan kompos dan pembuatan biobriket telah dilakukan banyak pihak dan dipraktikkan di banyak tempat. Karenanya, tim IbM UII hanya menjadi media yang menularkan dan ikut mensosialisasikan teknologi pembuatan kompos dan biobriket dari limbah baglog jamur tiram.

Lebih lanjut Ari mengatakan, pengolahan limbah baglog sudah dilakukan tim IbM UII pada 20 Mei 2017 lalu. Ia memaparkan, limbah baglog dikeringkan, disirami secara merata dengan EM4 aktif sebanyak 0,2 persen dari limbah baglog. Campuran itu ditambahkan air agar menjadi lembab, dan disimpan di wadah plastik yang tertutup rapat selama 7—10 hari agar berfermentasi.

“Setelah kompos, tim IbM FE UII bersama-sama peserta pelatihan melakukan penanaman sayuran dalam pot dengan media tanam kompos baglog dan arang sekam, dan hasil yang ditanam akan diolah jadi masakan untuk dinikmati bersama,” ungkap Ari.

Dalam pembuatan biobriket sendiri, bahan limbah baglog yang dikeringkan ditambah lem kanji encer sebanyak 10—15 persen dari limbah. Lalu, adonan itu dipres memakai alat pres tangan dan kaki demi mendapatkan biobriket yang padat. Kemudian, biobriket dijemur agar kering dan bisa dijadikan sebagai energi alternatif.

Baca Juga:  Tingkatkan Produktivitas Kedelai, Petani Mulai Terapkan Teknologi

“Ibm FE UII menyumbang alat pres briket sederhana kepada peserta pelatihan,” tambahnya.

Selanjutnya, tim IbM FE UII bersama peserta melakukan uji coba lama nyala biobriket yang telah dibuat. Menurut Ari, pengenalan pembuatan kompos dan biobriket ini ditutup materi komunikasi bisnis dan pemasaran, yang dapat digunakan untuk mengembangkan pemasaran produk jamur, kompos, dan biobriket.

Perkembangan permintaan jamur sendiri terus meningkat. Dari data Dinas Pertanian DI Yogyakarta, produksi jamur yang mencapai 1.396 ton pada 2014, naik menjadi 1.432 ton pada 2015 dengan luas areal panen 29,3 hektare. Perkembangan itu menarik Desa Demongrejo, Sentolo, membudidayakan jamur tiram.

Namun, perkembangan produksi jamur telah membuat limbah baglog mulai mencemari lingkungan dan menimbulkan bau tidak enak, lantaran petani membuang limbahnya di pekarangan rumah sendiri. Hal tersebut tentu saja dapat menimbulkan masalah lingkungan. Untuk itulah, tim IbM FE UII mengenalkan teknologi pengolahan limbah jamur agar dapat dimanfaatkan.

loading...
loading...