Macam-macam Tanah yang Ada di Indonesia


Pertanianku Macam-macam tanah yang ada di Indonesia cukup banyak. Sebenarnya, Indonesia memiliki 22 macam tanah yang tidak semuanya termasuk ke dalam tanah subur. Nah, berikut ini akan diulas beberapa macam tanah yang paling banyak ditemui di Tanah Air.

Macam-macam tanah yang ada di Indonesia
Foto: Pexels
  1. Tanah mediteran

Tanah mediteran terbentuk akibat pelapukan bahan induk batuan kapur, batuan sedimen, dan batuan tufa vulkanik. Tanah ini umumnya terbentuk di wilayah yang memiliki curah hujan 800—2.500 mm per tahun. Biasanya, tanah jenis ini terdapat pada ketinggian sekitar 0—400 m dpl. Tanah ini memiliki sifat yang rentan terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah hingga sedang.

  1. Tanah andosol

Tanah andosol terbentuk akibat pelapukan batuan induk tufa dan abu vulkanik. Tanah jenis ini umumnya terbentuk di wilayah yang memiliki curah hujan antara 2.500—2.700 mm per tahun. Tanah andosol peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas sedang hingga tinggi. Tanah ini banyak digunakan untuk penanaman sayuran, kopi, buah-buahan, teh, kina, dan pinus.

  1. Tanah podsol

Tanah podsol terbentuk akibat pelapukan batuan tufa vulkanik dan pasir kuarsa. Biasanya, tanah jenis ini ditemukan di wilayah dengan ketinggian 0—2.000 m dpl. Tanah ini bersifat peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah. Tanah podsol biasanya digunakan untuk perladangan dan perkebunan lada.

  1. Tanah grumosol

Tanah jenis ini terbentuk akibat pelapukan batuan naval, tanah liat, dan tufa vulkanik. Biasanya, tanah ini ditemukan di wilaya yang memiliki ketinggian 0—200 m dpl. Biasanya digunakan untuk palawija, tegalan, tebu, kapas, dan hutan jati.

  1. Tanah rensina

Tanah rensina terbentuk dari hasil pelapukan batuan kapur. Biasanya, lapisan yang dimiliki tanah ini sangat tipis. Oleh karena itu, tanah sangat peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas relatif rendah. Tanah jenis ini umumnya digunakan untuk tegalan, padang rumput, dan hutan jati.

  1. Tanah hidromorf kelabu
Baca Juga:  Petani Bisa Untung Berkali Lipat dengan Pertanian Modern

Tanah hidromorf kelabu terbentuk akibat pelapukan batuan tufa vulkanik asam dan batu pasir. Tanah jenis ini umumnya terdapat di wilayah yang memiliki curah hujan lebih dari 2.000 mm per tahun. Peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah sampai sedang. Jenis tanah ini digunakan untuk persawahan dan palawija, serta digunakan untuk bahan pembuatan batu bata dan genting.

  1. Tanah planosol

Tanah planosol terbentuk dari pelapukan batuan endapan di dataran rendah yang banyak mengandung bahan aluvial. Tanah planosol banyak ditemui di wilayah yang memiliki ketinggian 0—50 m dpl dengan curah hujan kurang dari 2.000 mm per tahun. Memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap erosi dan produktivitasnya pun rendah. Biasanya, tanah ini digunakan untuk persawahan tadah hujan dan tegalan.

  1. Tanah glei humus

Tanah jenis ini terbentuk dari hasil endapan bahan aluvial di wilayah yang memiliki curah hujan lebih dari 1.500 mm per tahun. Tanah glei humus jenuh dengan kandungan air dan memiliki produktivitas rendah. Sebagian besar tanah ini tersebar di dataran rendah. Biasanya, tanah ini digunakan untuk persawahan pasang surut dan persawahan rawa.

  1. Tanah organol

Tanah organol terbentuk dari bahan induk yang mengandung bahan organik dari hutan gambut dan tanaman rawa. Tanah ini terbentuk di wilayah yang memiliki curah hujan lebih dari 5.000 mm per tahun dan produktivitasnya rendah.