Mahasiswa Ini Kembangkan Tanaman Aloevera dengan Metode Hidroponik


Pertanianku – Sejumlah mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) telah satu tahun terakhir ini mengembangkan sistem pertanian hidroponik dan akuaponik yang dilakukan atas kerja sama dengan masyarakat dan beberapa petani muda setempat.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Bima Sakti V P (D3 Elektronika dan Instrumentasi SV), Hengky Anang Wijaya (D3 Elektronika dan Instrumentasi SV), Rahma Firdanti (Fakultas Pertanian), Rima Darmawanti (Fakultas Teknologi Pertanian), dan Rian Nur Hidayat (FEB).

Menurut Bima, ketua tim mahasiswa pengembangan program pertanian hidroponik di Desa Pucanganom 1, program alokasi pengembangan akuaponik vertikultur sayur-ikan desa atau yang disebut tanaman aloevera ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan para pemuda di desa tersebut.

Bima mengatakan, tanaman aloevera lahir dari keresahan pemuda di kampung itu. Mereka berkeinginan menjalankan usaha agar bisa lebih produktif dan mandiri dalam perekonomian. Namun begitu, persoalan keterbatasan modal masih menjadi kendala utama yang menghambat produktivitas mereka.

Pertanian hidroponik dan akuaponik sengaja dikembangkan karena perawatan pola tanam ini lebih mudah dibandingkan dengan pola tanam konvensional. Selain itu, tidak membutuhkan lahan yang luas sehingga bisa dilakukan di pekarangan rumah dengan lahan terbatas dan juga hemat air.

Mereka memanfaatkan lahan warga setempat seluas 10 × 10 meter untuk pembuatan satu buah rumah kaca (green house) sebagai tempat pengembangan pola tanam hidroponik dan akuaponik. Nantinya, tanaman yang akan dibudidayakan antara lain sawi keriting, selada, seledri, kangkung, cabai, terong, daun bawang, dan tomat.

“Rencananya juga akan membudidayakan ikan lele dalam kolam seluas 4 × 4 meter. Nantinya, kotorannya digunakan sebagi pupuk dalam pertanian akuaponik,” ujar Bima.

Program ini telah dimulai sejak awal Maret 2016 lalu. Saat ini, Bima dan rekannya bersama dengan pemuda setempat tengah dalam proses membangun rumah kaca untuk pelaksanaan program aloevera.

Baca Juga:  4 Jenis Bunga Cempaka yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Selain membangun fasilitas fisik, mereka juga memberikan sejumlah pelatihan terkait pengembangan pertanian hidroponik dan akuaponik mulai dari pembibitan, perawatan, panen, dan pengelolaan pascapanen.

“Kami menggandeng sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian hidroponik untuk berbagi pengalaman dan memberikan pelatihan pada pemuda Pucanganom 1,” katanya.

Hengky menambahkan, dalam menjalankan program ini mereka juga memberikan tambahan sentuhan teknologi. Mereka mengembangkan sebuah sistem otomatis untuk mengontrol kadar pH air dalam pertanian hidroponik agar tetap netral. Dengan begitu, diharapkan dapat menjaga laju pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Sistem pengontrol kadar pH air ini dibuat terintegrasi dengan smartphone berbasis android.

“Jika kadar air mengalami kenaikan atau penurunan akan muncul notifikasi dan secara otomatis sistem akan menyeimbangkan kembali kadar pH air,” ujar Hengky.

Dengan fasilitasi program yang berhasil mendapatkan dana hibah dari DIKTI ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian warga. Tidak hanya itu, bisa menjadikan Desa Pucanganom 1 sebagai menjadi sentral pendidikan hidroponik di masa mendatang.

loading...
loading...