Manajemen Pakan dan Minum Pullet


Pertanianku – Pemberian pakan dibedakan berdasarkan kebutuhan. Pakan yang digunakan adalah pakan pre-starter, starter, dan grower. Pakan pre-starter dan starter mengandung protein (asam amino), energi, dan vitamin (A, E, dan K) tinggi yang sangat dibutuhkan untuk pembelahan sel-sel baru.

Manajemen Pakan dan Minum Pullet

Pakan grower mengandung protein dan vitamin (A, E, dan K) lebih rendah dari ransum starter. Hal itu karena fungsi grower sebagai maintenance tubuh dan menghindari pertambahan lemak. Bagi ayam layer, keberadaan lemak lebih dari 5% di abdomen saat awal produksi akan menurunkan performa. Berkaitan dengan manajemen pakan, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan agar pakan yang diserap (feed intake) sesuai standar.

  1. a) Selalu menyediakan pakan berdasarkan standar, baik kualitas maupun kuantitas agar memudahkan kontrol dan menghindari pemborosan ransum. Cara pemberiannya disesuaikan dengan umur ayam.
  2. b) Selalu menyediakan pakan dalam kondisi segar dengan cara mengatur periode pemberian pakan dan sering membolak-balik pakan. Tindakan ini akan merangsang ayam mengonsumsi pakan dan mengurangi pakan terbuang. Hindari penggunaan ransum sisa.
  3. c) Hindari mengganti pakan dalam waktu singkat. Lakukan pencampuran pakan secara bertahap. Contoh, jika ingin beralih dari pakan pre-starter ke starter atau dari pakan starter ke grower, pencampurannya dilakukan secara bertahap dengan perbandingan 75:25, 50:50, dan 25:75 (% pakan lama terhadap pakan baru). Pencampuran dilakukan paling cepat selama tiga hari atau masing-masing tahap dua hari. Jadi, pada hari ke-7 bisa menggunakan 100% pakan baru sambil melihat respon ayam.

Air minum diberikan secara adlibitum (terus-menerus) karena kekurangan air akan berdampak luas seperti feed intake tidak mencapai standar, dehidrasi, dan tingginya stres. Akibatnya, terjadi imunosupresif sehingga ayam mudah terserang penyakit, lalu mati. Minimal ada tiga kategori atau paramater yang digunakan untuk menentukan kualitas air, yaitu kualitas fisik, kimia dan biologis.

Baca Juga:  Yuk, Buat Pupuk ala Rumahan dengan Cara Ini

Air berkualitas tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, terbebas dari partikel-partikel tersuspensi (tidak keruh) dari lumpur kasar, lumpur halus, maupun koloid. Ayam akan lebih memilih mengonsumsi air yang jernih.

Treatment yang dapat dilakukan untuk mengatasi kualitas air tersebut bisa dengan pengendapan atau penyaringan air, penambahan tawas (sebagai koagulan dan pengikat partikel sebanyak 2,5 g setiap 20 l air minum), serta penambahan sediaan yang berperan sebagai penjernih.

Sebagian besar air yang digunakan di peternakan ialah air tanah. Air tanah sering kali mengandung bakteri coliform dan bakteri lainnya yang berasal dari feses. Untuk itu, perlu dilakukan uji air untuk mengetahui ada tidaknya bakteri berbahaya dalam air. Jika memang ada dalam jumlah yang melebihi ambang batas, air perlu diberikan perlakuan tertentu dengan cara desinfeksi atau pemanasan air pada suhu 100o C.

Untuk desinfeksi air, sebaiknya memperhatikan dosisnya agar tidak berlebihan. Selain itu, jangan melakukan desinfeksi air minum saat proses vaksinasi. Kadar klorin sebesar 1 ppm akan menurunkan efisiensi vaksin ND sampai 20% dan kadar 2 ppm mampu menurunkannya sampai 85%. Air yang telah ditambahkan klorin, jika akan digunakan untuk melarutkan vaksin sebaiknya didiamkan selama minimal 24 jam. Selain itu, jarak desinfeksi air minum dengan vaksinasi juga perlu diperhatikan. Desinfeksi air minum sebaiknya dilakukan minimal 24—48 jam sebelum dan sesudah vaksinasi.

Pemberian obat dan vitamin sebaiknya dihentikan pada saat desinfeksi karena bisa menurunkan potensi atau bahkan merusak obat.

 

Sumber: Buku Bisnis Pembesaran Pullet