Mau Sukses? Yuk, Lihat Potensi Budidaya Ikan Nila Raja Singa!


Pertanianku – Seorang pria asal Sleman Yogyakarta merintis usaha pembesaran ikan nila raja singa super (RSS). Ikan ini memang tergolong ke dalam varietas baru. Oleh karena itu, prospeknya pasti masih sangat menjanjikan. Itu sebabnya Muhammad Saryanto tertarik untuk merintis usaha tersebut.

Saryanto biasa ia disapa menjalankan usaha ini sejak 2010 lalu. Ikan nila varietas baru ini mulai booming karena mempunyai kecepatan tumbuh lebih cepat dibanding nila umumnya, yaitu mampu panen dalam waktu 58 hari untuk ukuran konsumsi seberat 300—400 gram.

Dengan modal awal sebesar Rp4 juta, Saryanto membeli benih ikan nila RSS. Varietas baru ikan nila ini merupakan hasil perkawinan silang anakan ikan nila raja singa yang memiliki nama asli Citralada dengan indukannya.

Saat mencoba memulai usaha pembesaran ikan nila RSS dengan modal Rp4 juta tersebut, Saryanto membeli benih ikan seukuran kira-kira 2 jari dengan jumlah 6 ribu ekor benih untuk satu kolam ukuran 5 m × 10 m × 1 m. Benih tersebut ia beli seharga Rp1,2 juta atau harga benih per ekor Rp200. Sisa modal dari Rp4 juta tersebut digunakan Saryanto untuk membeli pupuk, pakan, dan peralatan budidaya seperti terpal, jaring, lambit, dan lainnya.

Dari hasil tebar 6 ribu ekor ikan nila RSS itu, didapat hasil panen yang ternyata lumayan besar 529 kg. Dari situlah Saryanto akhirnya berpikir untuk menambah kolam pembesarannya sebanyak 4 kolam. Kolam-kolam tersebut berukuran 5 m × 10 m × 1 m. Saryanto sebelumnya sudah memiliki kolam tanah sebanyak 15 kolam. Kolam itu sebelumnya dipakai untuk budidaya ikan lele.

Menurut Saryanto, pemakaian kolam tanah sangat baik dibanding memakai kolam beton. Hal ini karena budidaya ikan pada kolam tanah akan membantu penyediaan pakan alami untuk ikan terutama plankton. Perombakan sisa pakan dan metabolisme ikan juga bisa terurai secara alami. Selain itu, dari segi ekonomis biaya yang dikeluarkan untuk membuat kolam tanah relatif murah. Berbeda dengan budidaya ikan di kolam semen, penyediaan pakan alami pada kolam beton lebih sedikit, dan proses penguraian alami sulit terjadi. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat kolam semen juga lebih mahal.

Baca Juga:  Begini Cara Membedakan Ikan Patin Lokal dan Vietnam

Kolam untuk budidaya ikan ini tidak perlu dikuras karena menggunakan konsep air mengalir atau tidak tergenang. Ditunjang dengan sistem inlet (pemasukan) dan outlet (pengeluaran) air, air di kolam pemeliharaan berganti otomatis tiap hari. Kolam budidaya ini bisa memanfaatkan aliran air dari mata air atau sungai.

Menurut Saryanto, dengan masa panen 58 hari atau sekitar 2 bulan, ia bisa memanen sekitar 529 kg per kolam atau 2,1 ton ikan nila RSS dari 4 kolam yang dipakainya. Dengan harga jual nila RSS ke tengkulak sekitar Rp15.000, omzet yang bisa diraup Saryanto sekitar Rp31 jutaan.

loading...
loading...