Melihat Metode Budidaya Ikan Patin di Vietnam


Pertanianku – Di Indonesia, budidaya ikan patin yang banyak dilakukan adalah ikan patin siam (Pangasius hyphopthalmus). Sebenarnya, ikan ini berasal dari Sungai Mekong, Vietnam. Di daerah asalnya, ikan patin merupakan komoditas ekspor yang potensial dan sangat populer. Di Vietnam budidaya ikan patin banyak dilakukan di keramba jaring apung, jaring tancap, dan kolam.

Melihat Metode Budidaya Ikan Patin di Vietnam

Luas kolamnya pun cukup bervariasi, mulai dari 1.000 m2 sampai dengan 1 hektare per kolam, dengan kedalaman kolam berkisar 3—4 m. Kolam yang dalam memungkinkan padat tebar yang tinggi. Kolam-kolam tersebut dibangun di daerah yang dekat dengan aliran sungai besar karena untuk mendapatkan hasil panen yang baik diperlukan penggantian air secara rutin setiap hari dengan jumlah 30—50 % dari volume air dalam kolam.

Kedalaman air kolam yang besar memungkinkan untuk membudidayakan ikan patin dalam kepadatan yang tinggi. Untuk setiap meter persegi luasan kolam, maka terdapat 3—4 meter kubik ruang hidup ikan patin. Jika dalam satu hektare kolam dapat dihasilkan 400 ton ikan patin, sesungguhnya produktivitas kolam adalah 13,33 kg/m3.  Teknik budidaya dengan menggunakan kolam dalam merupakan pendekatan pada pola budidaya di jaring atau keramba.

Dengan penggantian air mencapai 50% per hari, kesehatan lingkungan budidaya dalam kolam dapat dijaga sehingga produktivitas kolam bisa tinggi. Sebagai pembanding, keramba jaring apung ikan nila di waduk-waduk di Indonesia mempunyai produktivitas antara 10—35 kg/m3.

Benih patin ditebar di kolam pembesaran mulai ukuran 20 g/ekor dengan padat tebar antara 20—50 ekor/m2. Jumlah padat tebar ditentukan oleh sumber air sungai yang tersedia dan jenis pakan yang digunakan. Jika sumber air sungai tersedia dalam jumlah yang berlimpah dan mutu air yang baik, padat tebar berkisar 30—40 ekor/m2, jika menggunakan makanan buatan pabrik.

Baca Juga:  Mendag Kritik Masyarakat Indonesia yang Konsumsi Ikan Olahan Impor

Ada dua jenis pakan yang digunakan dalam pemeliharaan ikan patin, yaitu pakan yang dibuat oleh pabrik dan pakan sederhana yang dibuat oleh industri rumah tangga. Sudah tentu kualitas kedua jenis pakan ini jauh berbeda. Harga kedua jenis pakan tersebut juga berbeda.

Meskipun demikian, biaya produksi pakan tradisional semakin tinggi karena harga bahan baku semakin tinggi dan ikan rucah semakin sulit didapat. Hal ini membuat semakin banyak pembudidaya ikan patin memilih untuk menggunakan pakan komersial buatan pabrik.

Pada periode pendederan, para pembudidaya biasanya menggunakan pakan buatan pabrik, dengan kandungan protein 28—40% bergantung usia ikan dan pilihan pembudidaya. Untuk tahap pembesaran, pakan komersial yang digunakan mengandung protein 28—25%. Nilai konversi pakan rata-rata 1:1,6—1,8.

loading...
loading...