Memahami Kebiasaan Makan Ikan Patin

PertaniankuIkan patin banyak dijumpai di air tawar seperti di waduk, sungai besar, dan muara sungai. Ikan ini lebih sering menetap di bagian dasar perairan dibandingkan di permukaan. Di Indonesia, ikan ini tersebar di daerah Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

ikan patin
foto: https://www.bulelengkab.go.id/

Ikan patin merupakan ikan omnivora atau pemakan segalanya. Namun, pada fase larva, ikan ini cenderung bersifat karnivora. Pada fase larva, ikan akan bersifat kanibal yang suka memangsa jenisnya sendiri.

Kanibalisme tersebut bisa muncul ketika jumlah pakan yang tersedia kurang. Larva tidak segan-segan untuk memangsa kawannya sendiri. Oleh karena itu, dalam budidaya ikan patin, larva ikan tidak boleh terlambat diberikan pakan.

Pakan yang diberikan untuk ikan akan berubah seiring dengan pertambahan umur dan perkembangannya. Larva patin berumur 0—2 hari belum diberikan pakan tambahan karena larva masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur yang masih menempel di perut.

Setelah berumur 2—7 hari, larva patin diberikan pakan telur Artemia sp. Selanjutnya, pada umur 7—15 hari, larva diberikan pakan cacing sutera atau Tubifex sp. Setelah larva berumur 15—30 hari, larva sudah bisa diberikan pelet berbentuk tepung dengan kandungan protein minimal 40 persen.

Di habitat aslinya, ikan patin akan memakan ikan kecil, cacing, udang-udangan, moluska, serangga, dan biji-bijian. Berdasarkan pakan yang bisa dimakan, ikan ini tergolong ikan pemakan segala (omnivora).

Namun, untuk ikan yang dibudidayakan lebih sering diberikan pakan buatan seperti pelet. Pakan pelet menjadi pakan terbaik dan mutlak diberikan untuk ikan patin yang dibudidayakan secara intensif.

Pakan buatan berupa pelet memiliki kualitas kandungan yang lebih terjamin sehingga bisa melengkapi kebutuhan nutrisi ikan budidaya. Nutrisi tersebut bisa membantu pertumbuhan ikan menjadi lebih optimal dan cepat.

Baca Juga:  Ciri-ciri Induk Kucing akan Melahirkan

Namun, yang sering menjadi permasalahan bagi para pembudidaya adalah harga pakan buatan yang relatif mahal. Apalagi, ikan patin merupakan ikan yang rakus sehingga pembudidaya membutuhkan pakan dalam jumlah banyak.

Untuk menekan biaya pakan yang mahal, pembudidaya bisa membuat pelet sendiri sebagai pakan tambahan. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat pelet adalah ikan rucah, limbah pengolahan ikan, limbah peternakan ayam atau burung puyuh, pecahan sisa telur, keong mas, dan belatung.

Ikan patin merupakan ikan nokturnal yang aktif pada malam hari. Ikan lebih senang mencari makan di tempat yang agak gelap dan dalam. Pada siang hari, ikan lebih cenderung bersembunyi di tempat-tempat yang gelap. Oleh karena itu, pakan yang diberikan pada sore hari harus lebih banyak dibanding siang dan pagi hari.


loading...