Memahami Metode Penetasan Artemia Sebagai Pakan Alami Udang

Pertanianku — Ada dua metode yang lazim digunakan untuk menetaskan artemia sebelum digunakan sebagai pakan alami udang, yaitu penetasan dekapsulasi (penghilangan cangkang) dan penetasan tanpa dekapsulasi. Berikut ini penjelasan metode penetasan artemia.

pakan alami udang
foto: By © Hans Hillewaert, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=9575707

Penetasan tanpa dekapsulasi

Proses penetasan tanpa dekapsulasi lebih sederhana dibanding metode dekapsulasi. Metode penetasan ini disebut sebagai penetasan langsung. Prosesnya dimulai dengan memasukkan kista atau telur artemia ke dalam air laut, lalu didiamkan selama 24 jam. Biasanya, setelah 12—20 jam, cangkang akan retak dan pecah, lalu diikuti dengan keluarnya nauplii yang menggantung pada permukaan bagian bawah cangkang.

Setelah beberapa saat, nauplii akan lepas sepenuhnya dari cangkang dan berenang bebas di dalam kolam air. Artemia yang sudah menetas dikumpulkan dengan menggunakan serokan untuk selanjutnya dimasukkan ke bak pembenihan udang.

Untuk udang air tawar, artemia dapat digunakan sebagai pakan sejak larva udang air tawar menetas. Sementara itu, untuk udang penaeus, artemia hanya bisa digunakan sebagai pakan saat larva udang memasuki fase F3.

Penetasan dekapsulasi

Metode dekapsulasi kista artemia adalah proses penghilangan cangkang kista menggunakan larutan hipokhlorit. Larutan tersebut akan memecahkan dinding sel kista sehingga terpisah dari telur artemia. Dekapsulasi memberikan beberapa keuntungan untuk pembudidaya sebagai berikut.

  • Metode ini dapat memberikan jaminan keamanan Kista tanpa cangkang lebih aman dikonsumsi meski belum menetas. Cangkang yang berasal dari buangan tetesan kista tak bisa dicerna oleh larva sehingga bisa menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan. Selain bebas cangkang kista, dekapsulasi juga bisa menghasilkan artemia yang bebas dari kontaminan, jamur, dan mikroorganisme berbahaya lainnya.
  • Nauplii yang dihasilkan memiliki kandungan energi dan bobotnya lebih besar. Hal ini karena nauplii tidak memerlukan energi terlalu besar untuk memecahkan cangkang dalam proses penetasan.
  • Kista dekapsulasi juga bisa digunakan secara langsung sebagai pakan.
  • Memerlukan pencahayaan yang lebih rendah untuk penetasan.
Baca Juga:  Penyakit Velvet, Penyebab Ikan Cupang Berenang Cepat Tak Terarah