Membuat Minyak dari Tanaman Serai

Pertanianku – Serai di Indonesia, terdapat dua jenis tanaman serai, yaitu serai dapur (Cymbopogon citratus) dan serai wangi (Cymbopogon nardus). Serai tumbuh pada daerah dengan ketinggian 50—2.700 m dpl. Di Srilangka, tanaman ini tumbuh alami, tetapi dapat ditanam pada berbagai kondisi tanah di daerah tropis yang lembap, cukup sinar matahari, dan memiliki curah hujan relatif tinggi. Di Indonesia, tanaman serai banyak ditemui di daerah Jawa dan dikenal dengan nama ‘sere’ (new citronella grass).

Membuat Minyak dari Tanaman Serai

Biasanya tumbuh di dataran rendah pada kethiggian 60—140 m dpl. Perbanyakannya dengan potongan rimpang. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 0,5—1 m Pemanenan dilakukan bila tinggi tanaman telah mencapai 1—1,5 m. Pemotongan pertama dilakukan pada umur 6—9 bulan. Pemanenan selanjutnya dilakukan selang 3—4 bulan.

Loading...

Penurunan intensitas cahaya matahari sampai 50% dan pemupukan urea sampai 100 kg/ha dapat berefek pada peningkatan hasil minyak asiri serai wangi. Berat segar daun dan berat bahan kering daun hanya dipengaruhi oleh dosis pemupukan nitrogen. Kadar air daun hanya dipengaruhi intensitas cahaya matahari. Tinggi tanaman dipengaruhi intensitas cahaya matahari dan dosis pemupukan nitrogen dan keduanya terdapat interaksi dalam mempengaruhi tinggi tanaman.

  1. Bahan baku

Bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan baku minyak asiri adalah daunnya. Daun serai dapat diambil dari tanaman yang tingginya telah mencapai 1—1,5 meter dan telah berumur 6—9 bulan.

  1. Persiapan bahan

Daun yang telah dipanen selanjutnya dirajang terlebih dahulusehingga memiliki panjang antara 10—15 cm. Selanjutnya, daun dikeringkan dengan cara dikeringanginkan. Setelah kering, bahan siap untuk disuling.

  1. Proses pembuatan minyak

Pembuatan minyak serai dilakukan dengan cara penyulingan. Proses penyulingan diawali dengan memasukkan air terlebih dahulu hingga batas yang diinginkan. Pada water and steam distillation, air dimasukkan hingga mendekati batas sarangan. Selanjutnya, masukkan bahan ke dalam ketel suling. Sebelum proses penyulingan dimulai, pastikan bahwa semua sambungan, lubang inlet maupun outlet telah tertutup rapat.

Baca Juga:  Gedebog Pisang, Limbah di Indonesia Berharga Mahal di Amerika

Hal ini penting dilakukan untuk menghindari kebocoran yang berakibat keluarnya semburan liar uap dan terbuangnya uap asiri. Selanjutnya, pastikan bahwa air dalam kondensor telah tersedia dalam jumlah yang diperlukan. Ketersediaan air ini penting untuk memperlancar proses kondensasi.

Setelah semua instalasi dipastikan aman dan bekerja dengan baik, nyalakan api hingga suhu dan tekanan mencapai ukuran yang diinginkan. Segera setelah air mendidih, minyak sudah dapat terlihat pada tabung pemisah. Adapun lama penyulingan sangat tergantung dari banyaknya bahan dan kapasitas ketel. Namun, cara mudah untuk mengetahui akhir dari proses penyulingan yaitu tidak keluarnya minyak yang dapat dilihat pada tabung pemisah (florentine flask). Minyak yang keluar segera ditampung dalam wadah penampung dengan membuka keran pada tabung pemisah. Konstruksi wadah penampung hendaknya dapat menghindari penguapan yang lebih banyak, misalnya menggunakan botol dengan mulut yang kecil. Selain itu, usahakan agar suhu pada wadah penampung antara 20—25o C untuk menghindari penguapan.

 

Sumber: Buku Memproduksi 15 Minyak Asiri Berkualitas

 

Loading...
Loading...