Menanam Jagung Tanpa Olah Tanah

Pertanianku — Pada umumnya kegiatan bertanam diawali dengan proses pengolahan tanah guna membuat tanah pertanaman menjadi subur, gembur, dan mengandung banyak unsur hara. Namun, saat ini Anda bisa menanam jagung tanpa dilakukan pengolahan tanah. Cara bertanam ini cukup efektif mengurangi biaya produksi.

menanam jagung
foto : Pertanianku

Keunggulan lain dari cara menanam jagung ini ialah mempercepat waktu tanam jagung setelah panen padi. Selain itu, meningkatkan pendapatan petani jagung di daerah dengan curah hujan pendek dan curah hujan normal.

Jika padi dipanen dengan cara memotong batang padi dekat permukaan tanah dengan sabit, pembersihan lahan dapat berjalan cukup mudah. Sementara itu, jika padi dipanen dengan mesin dros, petani perlu membersihkan lahan dari jerami terlebih dahulu.

Aplikasikan herbisida sistemik untuk mematikan rumput atau gulma hingga ke bagian akarnya. Gunakan dosis herbisida sesuai dengan petunjuk dan ketebalan gulma. Umumnya, dosis herbisida yang digunakan sebanyak 3 liter per hektare atau 400—500 larutan semprot per hektare. Tiga sampai empat hari setelah penyemprotan dilakukan pemantauan untuk melihat kondisi gulma di lapangan.

Setelah satu minggu pengaplikasian herbisida, petani dapat langsung melakukan penanaman. Namun, sebelum penanaman, petani perlu membuat saluran irigasi terlebih dahulu, terlebih pada lahan sawah tadah hujan. Saluran irigasi dibuat di sekeliling lahan dan saluran tersebut berfungsi mengairi tanaman bila kekurangan air.

Setelah itu, petani dapat langsung menanam bibit di atas bedengan selebar 2 m. Satu lubang tanam dapat digunakan untuk menanam 2 biji. Tutup lubang tanam tersebut dengan pupuk kandang agar mudah ditembus kecambah tanaman. Pupuk kandang yang diberikan juga dapat berfungsi sebagai pupuk tanaman yang baru tumbuh. Jarak tanam yang dibutuhkan pada lahan subur sekitar 80—75 cm × 20 cm.

Baca Juga:  Kementan Terus Dorong Pengendalian OPT Ramah Lingkungan

Untuk tanaman yang ditanam pada media yang didominasi pasir, pupuk diberikan dua kali saat tanaman berumur 10 dan 35 hari setelah tanam. Sementara itu, untuk tanaman yang ditanam pada tanah yang didominasi liat, pemupukan dilakukan tiga kali saat tanaman berumur 7—10, 28—30, dan 40—45 hari setelah tanam. Pemupukan ketiga biasanya menggunakan BWD (bagan warna daun) utnuk menentukan kadar N yang dibutuhkan.

Takaran pupuk tunggal untuk satu hektare umumnya sebesar 350 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCL. Sementara itu, untuk pupuk majemuk NPK 15:15:15  400 kg+ 270 kg Urea + 80 kg SP-36.