Mendag Optimis RI Tak Perlu Impor Beras


Pertanianku – Pemerintah dalam hal ini Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita terus mengontrol dan memastikan bahwa untuk mencukupi kebutuhan pangan untuk Bulan Ramadhan yang akan datang beberapa bulan lagi, tidak akan melakukan impor beras hingga hari raya Idul Fitri pada Juni mendatang. Mendag meyakini produksi beras dalam negeri mampu mencukup kebutuhan nasional.

Usai memimpin rapat pengamanan stok pangan di Kementerian Perdagangan, baru-baru ini, Enggar menyebut beberapa provinsi seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan memiliki kelebihan stok beras. Namun begitu, ada juga provinsi lain yang kekurangan stok beras.

Oleh karena itu, surplus beras di satu provinsi dapat disalurkan ke provinsi lain yang kekurangan. Hal yang sama, sambung Mendag, juga akan dijalankan untuk komoditas pangan yang lain.

“Beras sudah pasti tidak impor. Paling yang kita impor itu daging dan gula,” kata Enggar di Auditorium Kementerian Perdagangan belum lama ini seperti mengutip Antaranews (24/3).

Impor daging sapi dan gula dilakukan karena produksi dalam negeri tidak mampu mencukup kebutuhan nasional. Mendag memaparkan, kebutuhan gula konsumsi mencapai 3,3 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi dalam negeri hanya mampu menghasilkan 2,2 juta ton per tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, pemerintah harus mendatangkan gula dari luar negeri. Namun begitu, Enggar memastikan volume impor tidak akan lebih dari selisih kebutuhan gula yang tidak mampu dipenuhi produsen dalam negeri.

“Kita akan mulai datangkan gula dari Australia, supaya tidak hanya dari Thailand saja. Harganya juga sudah sama,” kata dia. Saat ini, harga eceran tertinggi untuk gula kristal putih di pasaran ditetapkan Kemendag seharga Rp12.500 per kg.

Baca Juga:  BKSDA: Masyarakat Harus Giat Lakukan Penangkaran

Sementara itu, harga eceran daging beku saat ini berada di kisaran Rp80.000 per kg dan daging segar Rp115.000 per kg. Sama seperti gula, pemerintah melakukan impor daging karena produksi dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan daging dalam negeri.

loading...
loading...