Mendag Sebut Minyak Sawit Mentah RI Masih Jadi Primadona di Spanyol


Pertanianku — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia masih akan menjadi komoditas primadona di Spanyol. Hal ini terbukti dari ekspor sawit tahun lalu melesat 45,89 persen menjadi US$1,16 miliar dibandingkan 2016 lalu.

minyak kelapa sawit
Foto: Google Image

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Arlinda mengatakan, Spanyol masih membutuhkan produk CPO. Buktinya mereka sebagai salah satu negara Uni Eropa getol menggaungkan kampanye hitam sawit, impor dari Spanyol masih cukup kuat.

Oleh karena itu, ia menilai bahwa kampanye hitam sawit hanya ‘akal-akalan’ persaingan usaha tidak sehat dari kompetitor. “Mereka (Uni Eropa) sebenarnya dalam realitasnya takut. Padahal, mereka butuh banyak,” ujarnya seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (5/10).

Namun demikian, kampanye hitam tersebut mulai berdampak ke negara-negara tujuan ekspor RI. Dari Spanyol, ekspor sawit RI turun enam persen, yakni dari US$744,73 juta per semester I 2017 lalu menjadi US$699,87 juta pada periode yang sama tahun ini.

Secara keseluruhan, catatan Kemendag menyebut, nilai ekspor sawit dan turunannya ke Uni Eropa relatif stagnan, yaitu dari US$2,29 miliar pada Januari—Juli 2017 lalu menjadi US$2,27 miliar pada Januari—Juli tahun ini. Namun, untuk setahun penuh pada 2017, nilai ekspor sawit dan turunannya ini meningkat 34,98 persen menjadi US$3,82 miliar ketimbang tahun sebelumnya, yakni hanya US$2,83 miliar.

Arlinda menyebut, untuk total produk, neraca perdagangan RI surplus terhadap Spanyol. Total perdagangan kedua negara mencapai US$1,78 miliar hingga Juli 2018, terdiri atas ekspor US$1,37 miliar dan impor US$408,2 juta. “Neraca perdagangan antara Indonesia dan Spanyol surplus sebesar US$970,80 juta,” ungkapnya.

Produk utama yang mendominasi perdagangan antara kedua negara, yakni sawit. Diikuti oleh bijih tembaga, batu bara, produk kimia, dan karet. Beberapa komoditas lain yang juga berpotensi jumlah ekspornya meningkat, yakni kayu olahan dan perhiasan. Spanyol dinilai membutuhkan banyak kayu jati untuk pembuatan furnitur.

Baca Juga:  IFAD Salurkan Anggaran untuk Wirausaha Muda Pertanian Indonesia

“Untuk potensi kenaikan itu, tidak perlu menunggu perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) selesai, tapi kalau sudah selesai, lebih bagus lagi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita meminta bantuan Spanyol untuk mempercepat penyelesaian perundingan IEU-CEPA. Keduanya sepakat perjanjian perdagangan bebas itu penting dilakukan sesegera mungkin. “Meskipun, tidak mungkin tahun ini (rampungnya),” katanya.