Mengenal Buah dari Tanaman Lada

Pertanianku – Buah lada tidak bertangkai atau disebut buah duduk, berbiji tunggal, berbentuk bulat atau agak lonjong, umumnya berdiameter 4—6 mm, berdaging, kulitnya berwarna hijau apabila masih muda dan berubah warnanya menjadi merah apabila sudah masak. Terdapat perbedaan besar pada karakter buah di antara beberapa varietas lada.

Buah Lada

Ada tiga tipe buah yaitu buah normal, buah tidak normal, dan bakal buah yang tidak tumbuh atau tidak berkembang. Buah normal berwarna hijau tua dan akan berubah menjadi merah kehitaman. Di Indonesia terdapat beberapa varietas yang berbuah besar seperti Jambi dan Jaya Mulya, sedangkan di India Kalluvally dan Paniy 1.

Diameter buah Jaya Mulya 7,28 mm; jauh lebih besar dibandingkan dengan diameter buah Bengkayang (5,71 mm) dan Lampung Daun Kecil/LDK (5,15 mm). Kulit buah tipis ± 1—2 mm. Pada buah muda kulit keras; sedangkan pada buah masak kulit lunak berair, berwarna merah jingga, dan mudah terkelupas.

Buah mengandung minyak asiri, oleoresin, dan piperin yang kandungannya berbeda pada beberapa varietas. Selain ditentukan oleh varietas; kandungan bahan kimia tersebut dipengaruhi pula oleh faktor lingkungan, masa panen, dan waktu penyimpanan. Varietas Lampung Daun Lebar (LDL) yang berasal dari Simpang Moterado mengandung kadar minyak tinggi (3,83%); sedangkan kandungan oleoresin (13,78%) dan piperin (3,10%) tertinggi pada Kuching (Nuryani dan Tritianingsih, 1994). Karakteristik aroma dan pungency tergantung pada kandungan oleoresin, sedangkan piperin menentukan rasa pedas pada lada. Kandungan minyak terdapat pada kulit biji. Selain piperin dan oleoresin, juga terdapat beberapa amida (2-methylpropyl, 1-3 benzo diohokol-5yl), 2 phenolic amides dll.

Biji lada berbentuk bulat, berwarna krem dengan ukuran yang bervariasi (rata-rata 3—4 mm) dan embrionya sangat kecil. Bobot 100 butir biji lada berkisar 3—8 g; rata-rata bobot 4,5 g tergolong normal. Diameter biji varietas Bengkayang (4,05 mm), lebih kecil dari diameter biji Jaya mulya (5,08 mm). Baik buah maupun bijinya, varietas Merapin paling kecil dibandingkan dengan lada budi daya lainnya yang ada di Indonesia.

Baca Juga:  Metode-metode Pengawetan Kayu Jabon

Kemampuan berproduksi setiap varietas tidak sama; di Indonesia varietas Petaling 1, Petaling 2, dan Bengkayang berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya. Paniyur 1 dapat berproduksi 10,5 kg/tanaman (berat basah), sedangkan Kalluvaly hanya 3,4 kg/tanaman.

Biji lada tidak umum untuk dijadikan benih. Hal ini karena daya kecambahnya akan menurun setelah disimpan lebih lama dari satu minggu. Di samping itu, embrionya sangat kecil sehingga daya berkecambahnya juga rendah. Makin lama benih disimpan, baik pada kondisi lapangan maupun pada kondisi kamar, viabilitas makin menurun. Tanaman yang diperbanyak dengan biji baru akan menghasilkan setelah umur tujuh tahun.

 

Sumber: Buku Lada

 


loading...