Mengenal Hidroponik pada Tanaman Tomat


Pertanianku – Bercocok tanam tanpa tanah itulah gambaran singkat hidroponik. Hidroponik berasal dari bahasa Yunani, yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang berarti kerja. Secara keseluruhan dapat diartikan sebagai kerja air. Prinsip dasar dari hidroponik adalah memberikan atau menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman dalam bentuk larutan. Pemberiannya dilakukan dengan menyiramkan atau meneteskannya pada tanaman. Media tanam  yang digunakan adalah bahan-bahan yang bersifat porous dan bukan tanah. Daerah yang ideal untuk usaha hidroponik tomat adalah daerah dengan ketinggian 600—900 m dpl.

Pemeliharaan Tanaman Tomat

Secara umum, budi daya dengan hidroponik mempunyai keuntungan, di antaranya sebagai berikut.

  1. Tersedianya nutrisi cukup dan efisien bagi tanaman tanpa terhalang tempat dan musim.
  2. Tanaman terbebas dari gangguan hama dan penyakit yang berada dalam tanah.
  3. Hidroponik dapat meningkatkan pendapatan keluarga, meningkatkan pemenuhan gizi keluarga dan masyarakat, serta dapat meningkatkan ekspor komoditi non migas jika dalam skala besar.
  4. Tanaman hidroponik dapat menghijaukan dan memperindah pekarangan rumah, memberikan kepuasan batin apabila tanamannya berbuah, serta menciptakan kegiatan di waktu senggang.

Dewasa ini banyak jenis tanaman yang dapat ditanam secara hidroponik, termasuk tanaman tomat. Apabila hidroponik tomat akan dikomersialkan, keuntungannya ternyata tidak kalah dibandingkan hidroponik lain seperti paprika dan melon.

Dalam dunia hidroponik tomat, muncul berbagai perkembangan baru dalam hal media tanam dan formulasi pupuknya. Hiponika adalah contoh hidroponik yang lebih maju. Dalam hiponika,suplai hara diatur oleh komputer secara tepat dan berkesinambungan. Hiponika ini dikembangkan oleh Nozaya Shigei di Hyogo, Osaka Jepang. Satu pohon tomat dapat menghasilkan buah sebanyak 13.312 buah dalam waktu enam bulan. Selain itu, ada juga zeonika yang merupakan hidroponik dengan menggunakan bahan media zeolit. Zeolit adalah mineral yang berfungsi mengikat dan menyimpan unsur-unsur hara serta air. Unsur yang sangat dibutuhkan tanaman ini dengan mudah akan dilepas oleh media di saat tanaman membutuhkannya.

Baca Juga:  Ingin Budidaya Gambas Secara Organik? Begini Caranya

Selain perkembangan di atas, terdapat jenis media lain seperti rockwool. Bahan ini berasal dari serat batuan (3%) yang dikemas dalam kantong plastik. Media ini bisa digunakan untuk dua kali masa tanam. Penggunaan rockwool untuk skala usaha komersial masih riskan karena masih langka dan mahal. Sebagai gambaran, setiap tanaman harus memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 4.000 (Theo Hadinata 1992) yang berarti total penghasilan dari satu tanaman Rp 9.250.

 

Sumber: Buku Budidaya Tomat Secara Komersial