Mengenal Jagung Ketan


Pertanianku – Jagung ketan merupakan salah satu jenis jagung yang memiliki karakter unik. Jagung pulut mempunyai citarasa yang enak, lebih gurih, lebih pulen dan lembut dari jagung pada umumnya. Rasa gurih pada jagung ini karena kandungan amilopektin yang terkandung dalam jagung ketan sangat tinggi, mencapai 90% Jagung ini pertama kali ditemukan di Cina pada awal 1900 yang pada saat itu menjadi komodas pangan di daerah Sulawesi Selatan. Jagung ketan dibuat bahan pembuatan bubur di Manado dan Barobbo Sulawesi Selatan.

Mengenal Jagung Ketan

Yasin Hage, pemulia jagung di BALITSEREAL (Badan penelitian tanaman serealia) Sulawesi Selatan, mengungkapkan alasan jagung ini memiliki rasa yang manis, gurih dan pulen seperti ketan adalah endosperma dalam jagung pulut mengandung amilopektin yang kadarnya mencapai 90–93 %, sementara jagung biasa maksimal hanya 70 %.

“Jika Anda lewat jalan trans Sulawesi Selatan, Anda akan melihat petani-petani menjual jagung pulut dengan harga 10 ribu (rupiah) untuk 1 piring. Biasanya dalam satu piring berisi 8 tongkol. Jika jagung pulut ditanam di daerah dataran tinggi, maka masa panen akan menjadi lebih lama. Di daerah Sulawesi Selatan sendiri, jagung pulut ditanam pada ketinggian dibawah 200 Mdpl dan hanya perlu waktu 60 hari untuk memanennya,” ungkap Yasin.

Lahan tanam yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jagung ini haruslah memiliki tanah yang gembur untuk mendapatkan kualitas baik. Jarak tanamnya pun tidak boleh sembarangan, jarak tanam yang ideal untuk menanam jagung ini sekitar 75×20 cm. Populasi jagung ketan dalam 1 Hektar lahan biasanya dapat ditumbuhi sekitar 70 ribu tanaman.

“Untuk pemupukan lahan 1 Ha, lakukan pemberian pupuk phonska 200 kg dan 50 kg urea dengan dosis 1 sendok makan per tanaman. Pemberian pupuk petama bisa diberikan pada umur 7 hari. Sedangkan pemupukan kedua dilakukan 30 hari setelah tanam, cukup diberikan urea 150 kg untuk 1 hektar,” ungkap Yasin.

Baca Juga:  Petani: Impor Jagung untuk Kepentingan Sesaat

Untuk penyiangan gulma, cukup dilakukan sebanyak 2 kali. Apabila tidak kuat untuk menyiangi gulma dengan cara dicangkul, maka herbisida bisa menjadi langkah alternatif. Yang pertama bisa diberikan herbisida sistemik round up dengan takaran 7–8 liter/Hektar, kemudian 4–5 hari setelah itu berikan herbisida kontak gramoxone dengan cara disemprot.

Meskipun jagung pulut tahan terhadap hama, namun Yasin menganjurkan untuk memberi furadan sebanyak 3 gram pada pucuk-pucuk tanaman saat jagung berusia 2–3 minggu. Dan apabila terlihat goresan atau gigitan serangga maka diberikan furadan sebanyak 6 kg/ hektar. Jagung pulut bisa dipanen pada umur 60 hari. Hal yang perlu dilakukan untuk mengetahui apakah jagung pulut sudah siap dipanen adalah ambil satu butir jagung kemudian dipencet, apabila mengeluarkan cairan seperti susu maka jagung pulut sudah siap dipanen. Yang perlu diperhatikan adalah batas maksimal jaung pulut untuk dipanen usia 65 hari, karena jika lebih maka kualitas jagung sudah berkurang.