Mengenal Kayu Pohon Karet


Pertanianku – Secara tradisional, kegunaan kayu pohon karet hanya untuk kayu bakar pada rumah tangga, industri batu bata, atau pabrik pengasapan lembaran-lembaran karet. Namun, saat ini kayu karet telah memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Hasil penjualan kayu pohon karet yang akan diremajakan bahkan sudah cukup untuk menanggulangi biaya pengolahan lahan hingga kondisi siap tanam. Dari 1 ha areal yang sudah tua, diperkirakan terdapat + 175 m3 kayu pohon karet, termasuk cabang yang berdiameter >15 cm. Dari volume itu, 20% di antaranya (30—40 m3/ ha) sesuai untuk kayu gergajian. Sisanya sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai kayu serat papan partikel atau pulp. Melihat komponen kayu tersebut, pada dasarnya kayu karet terdiri atas kayu balok (gergajian) dan kayu limbah (yang tidak dapat dijadikan kayu gergajian). Kedua jenis kayu tersebut mempunyai kegunaan masing-masing.

Morfologi Tanaman Karet

Kayu karet memiliki berat jenis 0,61. Kuatannya pada kelas II—III dan kelas awetnya kategori V. Spesifikasi itu menjadikan kayu karet termasuk kayu yang cukup kuat, tetapi tidak awet. Kayu karet yang tidak mengalami proses pengawetan hanya tahan 8—10 bulan. Bila diawetkan dengan Kreosot (retensi 254 kg/m3) atau dengan residu (retensi 290 kg/m3) kayu karet dapat bertahan selama 20—22 tahun.

Di samping itu, kayu balok yakni merupakan bagian batang atau cabang karet yang memiliki diameter >20 cm dengan panjang >1,5 m. Kayu balok dapat dijadikan kayu gergajian dan kayu lapis.

  1. Kayu gergajian

Kayu karet digunakan sebagai bahan untuk mebel dan barang bangunan lainnya. Sudah sejak tahun 1980-an, kayu karet telah digunakan sebagai pengganti kayu ramin, agathis, pinus, atau meranti putih karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu sebagai berikut.

  • Karakteristik penggergajian yang baik.
  • Mudah dibor dan diwarnai.
  • Memiliki penyusutan dimensi yang rendah.
  • Mudah untuk dipaku.
  • Mudah untuk direkat.
Baca Juga:  Begini Cara Membuat Bibit Kakao Unggul

Rentanitas kayu karet terhadap serangga dan jamur menjadikannya harus dilakukan pengawetan sebelum dirakit. Pengawetan kayu dilakukan segera setelah ditebang. Pengawetan kayu dapat dilakukan dengan teknologi vakum maupun tekan. Bila tidak, kayu tidak dapat segera diolah dipabrik. Pengawetan dalam bentuk penyemprotan dapat dilakukan di lokasi penebangan maupun di halamanpabrik. Kayu karet dapat disimpandalam kolam sebelum divakum untuk mencegah infeksiserangga atau jamur, terutama jamur pewarna biru (blue stain). Ujung-ujung kayu balok dilumasi dengan Natrium pentakhlorofenoksida atau 2% Captafol. Untuk kayu yang telah digergaji, pengawetan dilakukan dengan mencelupkan kayu ke dalam campuran Borax dan Asam borat sekitar 40 menit.

Bahan kimia tersebut dibiarkan meresap ke dalam kayu selama 2—4 minggu di dalam ruangan tertutup. Tripleks dari kayu karet yang menggunakan perekat urea formaldehida dan diberi ekstender 20% ternyata dapat memenuhi standar mutu Indonesia, Jepang, dan Jerman. Tidak banyak jenis kayu yang dapat memenuhi ketiga standar mutu tersebut. Kayu tripleks karet dapat dibuat menjadi baki, asbak, cawan, atau sejenisnya. Kayu karet kurang cocok dibuat papan panel karena diameter kayu relatifkecil dan ukuran balok juga pendek.

Semua bagian kayu karet yang tidak dapat dijadikan kayu gergajian atau kayu lapis dikelompokkan sebagai kayu limbah. Limbah kayu karet masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan memiliki nilai ekonomis. Kayu limbah karet dapat dijadikan sebagai bahan baku papan partikel, papan serat, papan semen, arang, atau kayu bakar.

  1. Papan partikel

Papan ini berupa lempengan yang terdiri dari serpihan kayu karet hasil racikan yang direkat dan dipadatkan. Papan partikel dari kayu karet memiliki kerapatan sedang dengan berat jenis 0,59—0,80. Umumnya papan partikel yang dipakai telah dilapisi dengan plastik atau kertas berbagai corak.

Baca Juga:  Harga Vanilli Diprediksi Terus Membubung Tinggi Hingga 2028

Untuk meningkatkan keawetan papan, perlu ditambahkan bahan pengawet ke dalam ramuan perekat. Pemakaian bahan pengawet biasanya sekitar 0,5% dari bobot papan pertikel. Karena daya awetnya, papan partikel lebih sesuai digunakan untuk bahan pembuat mebel.

  1. Papan serat

Kayu karet dapat dibuat menjadi papan serat. Kayu terlebih dahulu diracik kecil dan diolah menjadi bubur kayu (pulp) dengan proses soda panas terbuka (proses semi-kimia soda panas), kemudian dikempa menjadi papan serat. Rendemen pulp berkisar antara 65—80%.

Papan serat dari kayu karet memiliki sifat keteguhan lentur dan tarik yang dapat memenuhi standar. Daya serapnya terhadap air dan pengembangan tebalnya yang tinggi perlu diatasi dengan bahan-bahan tertentu. Selain itu, lateks yang terdapat pada kayu dapat menimbulkan noda pada permukaan papan.

  1. Papan semen

Kayu karet mengandung zat ekstraktif yang menyebabkan kayu ini tergolong jelek bila dijadikan papan semen. Zat ekstraktif tersebut dapat dihilangkan dengan perendaman.

  1. Arang

Kayu karet tergolong kayu yang memiliki nilai bakar baik. Syarat kayu arang komersial adalah kayu yang memiliki:

  • Kadar karbon terikat 74—81%.
  • Kadar zat menguap 18—22%.

Syarat untuk membuat arang aktif adalah kayu yang memiliki:

  • Kadar karbon aktif 70—80%.
  • Kadar zat menguap 15—22%.

Kayu karet memiliki kadar karbon terikat 79% dan zat menguap 19%. Dengan demikian, kayu karet cocok dijadikan arang komersial atau arang aktif. Arang kayu dapat dipergunakan sebagai arang metalurgi dalam peleburan biji besi, sedangkan arang aktif dipergunakan sebagai pemurni dalam industri bahan makanan, bahan kimia, dan farmasi.

 

Sumber: Buku Budidaya dan Teknologi Karet