Mengenal Lebih Dekat Nila Jabir yang Adaptif di Air Payau

Pertanianku Nila jabir merupakan nila lokal yang toleran terhadap berbagai kondisi tambak. Jenis nila ini dapat hidup normal pada salinitas rendah hingga tinggi, 0–35 ppt. Nila jabir mampu bertahan di tambak yang dangkal, tambak salin, dan muara sungai. Nila air payau ini diharapkan dapat menghidupkan gairah budidaya ikan di tambak yang sempat lesu karena adanya serangan penyakit.

nila jabir
foto: Trubus

Kelebihan lain nila jabir yang disukai pembudidaya adalah dapat hidup pada kadar oksigen yang rendah serta tahan beragam penyakit. Di alam bebas, nila lokal ini membutuhkan waktu selama 8 bulan untuk tumbuh besar.

Potensi yang ada di dalam nila jabir membuatnya menjadi tetua nila salin unggul. Hasil persilangan antara induk jantan nila jabir dan induk betina dari gift, gesit, dan sultana berhasil menghasilkan strain baru nila salin unggul pada 2015. Strain unggul tersebut baru didapatkan setelah turunan ke-15. Nila salin unggul tersebut mampu tumbuh dengan cepat dalam waktu 3,5 bulan dengan ukuran di atas 250 gram per ekor bila dibesarkan di tambak payau.

Saat ini hasil persilangan tersebut sudah dikembangkan di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Biak (Papua Barat). Di Pulau Jawa, nila salin unggul dikembangkan di Sidoarjo (Jawa Timur) dan Jepara (Jawa Tengah) sebagai uji multilokasi ketahanan dan kualitas benih.

Keunggulan nila hasil persilangan ini adalah feed convertion rasio (FCR) sebesar 1,2. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg bobot ikan, jumlah pakan yang dibutuhkan sekitar 1,2 kg pada periode waktu tertentu.

Tingkat kelulusan hidup nila salin unggul di air payau mencapai di atas 85,5 persen. Keunggulan-keunggulan tersebut membuat nila hibrida ini menjadi salah satu komoditas unggulan yang dapat menguntungkan petambak. Sebelum ditemukan nila jabir, petambak bandeng dan udang kerap mengalami masalah berupa serangan penyakit sehingga banyak tambak yang dibiarkan terbengkalai.

Baca Juga:  Budidaya Udang Vaname Superintensif, Panen Dua Kali Lipat

Dahulu, petambak memelihara udang atau bandeng dengan pola monokultur sehingga ikan mudah terjangkit penyakit. Oleh karena itu, pembudidaya membutuhkan ikan lain untuk dibudidayakan.