Mengenal Lebih Jauh Kebun Entres

Pertanianku   Mata okulasi (lazim juga disebut mata entres) yang akan dijadikan perisai okulasi diambil dari cabang-cabang pohon di kebun kayu okulasi yang juga disebut kebun entres (Gambar 34). Kebun entres, terdiri atas klon-klon unggul yang sudah dianjurkan sebagai bahan tanam untuk pertanaman komersial. Bibit untuk kebun kayu okulasi berasal dari perbanyakan okulasi. Secara umum, bibit itu diperoleh dengan teknik okulasi yang dipesan dari balai-balai penelitian sebagai penghasil varitas (klon) sehingga diperoleh jaminan kemurnian klonnya. Kayu okulasi sebaiknya dipesan dari balai-balai penelitian untuk diokulasikan.

Mengenal Lebih Jauh Kebun Entres

Bibit ditanam dengan jarak tanam 1 m x 1 m atau 1 m x 1,2 m. Setiap klon ditanam dalam satu blok yang sama sehingga di dalam satu blok hanya terdapat satu jenis klon (100% klon murni). Antarblok diberi jalan pemisah selebar 1—2 m. Satu hektar kebun entres dapat menghasilkan banyak kayu okulasi selama bertahun-tahun karena terus-menerus menumbuhkan cabangcabang baru yang kelak digunakan sebagai sumber mata okulasi. Cabangcabang itu disebut kayu okulasi, yakni cabang-cabang sepanjang 1—1,5 m yang mengandung 8—12 mata okulasi. Pada tahun pertama (tanaman belum bercabang) dapat dihasilkan 8.000— 10.000 m kayu okulasi. Pada tahun kedua hingga kelima masing-masing dapat dihasilkan 20.000—25.000 m kayu okulasi.

Loading...

Di kawasan perkebunan karet yang cukup luas, sangat dianjurkan untuk memiliki kebun kayu okulasi sendiri sehingga kelak tidak mengalami kesulitan bibit ketika hendak mengganti tanaman. Setelah bibit untuk pohon sumber kayu okulasi ditanam, penunasan harus dilakukan secara intensif. Tunas-tunas yang tumbuh dari batang bawah dan tunas-tunas samping yang tumbuh dari ketiak daun harus segera dibuang.

Tunas-tunas lazim itu disebut tunas palsu karena pertumbuhannya tidak diharapkan. Hanya tunas yang tumbuh dari mata okulasi yang dibiarkan hidup karena kelak menjadi kayu entres. Pada tahun pertama, pemotongan kayu entres dilakukan pada ketinggian 50—60 cm dari pertautan okulasi. Pada tahun berikutnya, dipelihara 2—3 tunas yang tumbuh dari sisa pemotongan batang tahun pertama. Entres yang terlalu tua (>2 tahun) sebaiknya tidak digunakan.

Baca Juga:  Menanam Pohon Jabon Mendatangkan Banyak Keuntungan

Idealnya kebun okulasi harus dipangkas setiap tahun, meskipun cabangnya tidak dipergunakan. Tindakan budi daya ini dikenal dengan istilah peremajaan kebun entres (rejevunilitas), sebagai usaha untuk mendapatkan kayu-kayu okulasi yang sama usianya dengan batang bawah. Penelitian menunjukkan, dengan peremajaan ini hasil okulasi semakin sama dengan sifat-sifat klon yang diokulasikan.

Sebaliknya, bila tidak diremajakan maka hasil okulasi semakin jauh dengan sifatsifat klon. Untuk manajemen kebun entres, sangat dianjurkan untuk memberi plang nama klon, tahun tanam, dan waktu peremajaan di depan barisan tiap klon agar pelaksanaan okulasi tidak menyimpang dari nama klonnya.

Kayu okulasi dipotong berdasarkan kebutuhan jenis okulasi yang akan dilaksanakan. Sepuluh hari sebelum kayu okulasi dipotong, daun-daun yang terletak di bawah payung daun pertama dipotong tangkainya. Agar mata tunas tidak luka, pemotongan tangkai daun berjarak 5—10 cm dari batang.

Pemotongan kayu entres dilakukan sekitar 10 cm di atas pertautan cabang. Untuk menghindari serangan jamur, bekas luka potongan sebaiknya ditutup dengan parafin atau kolter (TB 192), sejenis senyawa yang menyerupai aspal. Kayu okulasi dapat juga diperoleh dari pertanaman yang belum disadap, meskipun mutunya lebih rendah dari kayu yang diambil dari kebun entres.

Kayu okulasi yang diambil dari areal perkebunan produksi (bukan khusus kebun entres) disebut tag entres. Tag entres, yaitu cabang-cabang yang tumbuh tegak lurus, umur, dan ukuran batang relatif sama dengan batang bawah yang akan diokulasi. Entres demikian tidak dianjurkan karena menimbulkan kerugian bagi pertumbuhan.

Kayu entres yang akan dipakai, dipotong sepanjang 1 m kemudian diberi label klon. Kedua ujungnya dilapisi dengan parafin. Kayu okulasi yang akan dikirim ke lokasi pembibitan dengan jarak tempuh <1 hari harus diwadahi di dalam gedebok pisang. Setiap bungkus gedebok pisang terdiri atas 20—25 kayu okulasi. Bila pengiriman memerlukan waktu 2—3 hari, kayu okulasi dimasukkan ke dalam peti tripleks berukuran panjang 105 cm, 50 cm lebar, dan tinggi 50 cm.

Baca Juga:  Jenis Pupuk yang Bagus untuk Pohon Kopi

Kayu okulasi disusun 70—80 batang/petikemudian dimasukkan serbuk gergaji lembap bercampur belerang. Kotak tripleks dilubangi di beberapa tempat sehingga aerasi udara di dalam terjaga. Satu hektar kebun entres berumur tiga tahun dapat menyediakan mata okulasi untuk seluas 396.000/{100/75 x 764}= 388,7434 ha tanaman di lapangan. Hal ini berarti bahwa untuk satu hektar tanaman di lapangan dibutuhkan seluas 1/388,7434 = 0,002572 ha kebun entres atau sekitar 20 pohon entres berumur tiga tahun. Dapat juga dengan menyediakansekitar 80 pohon entres berumur satu tahun. Potensi kayu okulasi dan jumlah mata okulasi yang dapat disediakan

setiap tahun.

Diketahui bahwa perbandingan luas antara kebun di lapangan dengan luas bibitan lapangan dan luas kebun entres yang berumur tiga tahun adalah 1 : 0,014378 : 0,002572. Jika kita ingin membangun perkebunan karet seluas 1.000 ha maka dibutuhkan seluas 14,378 ha pembibitan lapangan dan 2,572 ha kebun entres (berumur tiga tahun). Faktor keberhasilan okulasi tentu saja harus diperhitungkan, misalnya bila okulasi hanya 50% dan umur entres baru satu tahun maka angka tersebut berubah. Namun, dasar perhitungannya dapat mengacu kepada angka tersebut di atas.

 

Sumber: Budidaya dan Teknologi Karet

Loading...
Loading...