Mengenal Sejarah Durian di Nusantara

Pertanianku – Catatan paling awal mengenai durian nusantara ditemukan terpahat sebagai relief di permukaan dinding batu Candi Borobudur. Candi yang dibangun tahun 775—820 Masehi ini ternyata menyimpan banyak catatan mengenai kehidupan pada masa itu. Di antara jenis buah-buahan yang terpahat dan masih sangat jelas dilihat hingga saat ini adalah mangga, nangka, duku, pisang, kelapa, lontar (siwalan), dan durian. Bahkan, relief pohon durian yang sedang berbuah berada dalam satu bingkai bersama 11 wanita kerajaan yang menyiratkan pentingnya keberadaan durian di masa itu.

Mengenal Sejarah Durian di Nusantara

Pahatan relief durian ini merupakan salah satu catatan paling awal mengenai buah durian tidak saja di Indonesia, tetapi sangat mungkin di dunia. Berarti sejak 1.300 tahun lalu, buah durian sudah dikenal masyarakat yang hidup pada saat itu dan mendapatkan tempat terhormat di pekarangan istana kerajaan. Bahkan, para peneliti buah-buahan mancanegara mengakui bahwa informasi ini sangat otentik dan merupakan salah satu catatan mengenai buah tropika tertua di dunia.

Salah satu bukti lain ‘ampuhnya’ buah durian sebagai penyubur keturunan dapat dilihat di halaman Istana Narmada warisan raja-raja Bali di Lombok Barat. Di pekarangan belakang istana Narmada yang dipisahkan oleh sungai kecil tetapi deras, sang raja memiliki kebun durian unggul masa itu. Dapat dibayangkan bahwa seorang raja pasti memperoleh ‘persembahan’ buah durian terbaik dari rakyatnya. Biji buah durian pilihan yang disukai sang raja lalu ditanam di pekarangan. Pada masa itu belum dikenal cara okulasi atau grafting sehingga biji yang ditanam menghasilkan pohon-pohon dengan buah yang beragam, tetapi cukup berkualitas. Hingga saat ini, beberapa pohon durian unggul masa lalu tersebut masih produktif menghasilkan buah. Bahkan pada saat musim panen raya, satu pohon dapat menghasilkan lebih dari 1.000 buah. Dua pohon yang konsisten berkualitas tinggi dilepas oleh Kementerian Pertanian RI dengan nama varietas ‘Tong Medaye’ dan ‘Sipayuk’.

Baca Juga:  Begini Cara Memilih Jambu Biji yang Baik

Pemilihan tanaman durian dan manggis di Istana Narmada ini menunjukkan bahwa di masa itu telah dikenal fungsi ‘panas-dingin’nya (Cina/Korea: Yin- Yang) buah-buahan lokal. Oleh karena itu, diinterpretasikan bila sang raja ingin mengawini istri-istrinya untuk menghasilkan keturunan yang baik maka mereka akan berpesta durian. Sebaliknya bila sang raja akan mengambil keputusan penting dengan para menterinya mengenai pemerintahan maka ia akan makan buah manggis untuk menjernihkan pikirannya.

Loading...