Mengenal Teknologi Off-Season, Membuahkan Tanaman di Luar Musim


Pertanianku —  Sampai saat ini, masih banyak petani/pelaku agrobisnis tanaman buah yang belum mengetahui teknologi off-season. Padahal, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membuahkan tanaman di luar musim sehingga tanaman bisa terus berbuah sepanjang waktu.

teknologi off-season
Foto: Pixabay

Walaupun demikian, tidak semua tanaman buah bisa menjalani teknologi off-season. Teknologi ini sudah berhasil diterapkan dengan baik pada tanaman apel, jeruk, jambu air, lengkeng, durian, dan mangga.

Ada dua manfaat yang bisa Anda dapatkan dari teknologi off-season, yakni menaikkan harga buah yang selalu anjlok saat on-season (musim buah), kemudian untuk memenuhi kebutuhan pangan buah sepanjang tahun.

Produk komoditas agrobisnis memiliki sifat mudah rusak, memiliki biomassa besar, dan memerlukan tempat luas selama dalam penyimpanan di gudang ataupun saat dibawa dengan alat transportasi. Selain itu, kualitas produknya (terutama di Indonesia) belum bisa seragam sehingga muncul beragam kualitas (multigrade).

Bukan hanya itu, ketika sedang panen raya (on-season), komoditas buah seperti tidak ada harganya, terjual dengan harga sangat murah. Sebaliknya ketika sedang tidak musimnya (off-season), harganya melonjak tajam, padahal kualitas dan kuantitasnya sama.

Oleh karena itu, teknologi off-season menjadi sangat penting agar para petani buah bisa memperoleh imbalan yang lebih layak dari budidaya yang dijalaninya. Mungkin bisa disebut sebagai pengganti harga murah saat on-season. Untuk pengaplikasiannya sendiri, teknologi off-season memiliki dua model seperti berikut.

Aplikasi teknologi off-season model konvensional

Tanpa disadari, nenek moyang kita sejak dulu sudah menerapkan teknologi off-season pada tanaman buah, tetapi semuanya dilakukan melalui 5 metode mekanis sebagai berikut.

  1. Kerat. Mengerat pembuluh floem (kulit pohon) melingkar sepanjang lingkaran pohon, sampai terlihat pembuluh xylem (kayu pohon).
  2. Pruning. Memangkas daun, cabang, dan ranting sehingga pohon gundul atau tersisa sedikit daun.
  3. Pelukaan. Melukai pembuluh floem dengan menggunakan benda-benda tajam. Cara yang dilakukan bisa dengan mengerok, mencacah, memaku, atau mengiris kulit kayu.
  4. Pengikatan. Mengikat erat pohon dengan kawat sehingga transportasi hasil fotosintesa dari pembuluh floem terhambat.
  5. Stressing air. Tidak menyiram tanaman hingga mencapai titik layu permanen, lalu secara tiba-tiba melakukan penggenangan perakaran dan pangkal batang hingga jenuh air, dalam kurun waktu tertentu.
Baca Juga:  Prospek dan Potensi Jahe Gajah sebagai Bisnis

Kelima metode di atas tidaklah salah, bahkan sudah terbukti mampu mengubah perbandingan unsur karbon (C) dan nitrogen (N) atau C/N ratio dalam tubuh tanaman. Tetapi, cara-cara konvensional ini mempunyai kelemahan, yaitu tak terukur.

Jika aplikasinya kebetulan pas, akan berhasil. Tetapi jika tidak pas, pasti gagal. Karena cenderung trial and error, kelima cara konvensional tersebut tidak direkomendasikan dalam konteks budidaya tanaman buah. Sebab, tak bisa memberi kepastian hasil, bahkan berpotensi menimbulkan kerusakan pohon secara fisik dan fisiologis.

Aplikasi teknologi off-season model terkini

Cara terkini yang lebih terukur dan paling banyak dipilih petani modern adalah menggunakan agrochemical, berupa bahan aktif zat pengatur tumbuh (ZPT). Pada prinsipnya, teknologi agrochemical ini mengubah fisiologis tanaman dengan cara menghambat fase pertumbuhan vegetatif melalui peran hormon atau senyawa kimia tertentu, agar muncul fase generatif.

Namun, tanaman yang ingin dibuahkan di luar musim harus memenuhi tiga prasyarat penting sebagai berikut.

  • Tanaman harus sehat, ditandai dengan percabangan yang merata, daun berwarna hijau tua mengkilat, dan tidak sedang terserang hama/penyakit.
  • Tanaman sudah cukup umur/pernah berbunga. Pembungaan di bawah umur dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan vegetatif tanaman yang mengakibatkan postur tanaman menjadi kerdil dan tidak sehat.
  • Tanaman tidak dalam fase akselerasi pertumbuhan vegetatif, atau dalam bahasa Jawa disebut mepet (huruf vokal e dibaca seperti pada kata: pedang). Jadi, tanaman yang hendak menjalani teknologi off-season harus dalam kondisi sedang tidak mengalami pertumbuhan tunas tanaman dan daun baru (pupus).