Mengenal Varietas Cabai Keriting Hibrida


Pertanianku – Sepintas sosok tanaman cabai keriting hibrida sama persis dengan cabai keriting lokal biasa. Namun, bila dicermati sungguh-sungguh tampak bahwa cabai keriting hibrida lebih responsif terhadap pemupukan sehingga pertumbuhannya lebih cepat dan produksi per satuan luasnya jauh melebihi varietas keriting lokal. Dengan demikian, harga benih cabai keriting hibrida pun menjadi sangat mahal dibandingkan dengan cabai keriting lokal. Walaupun demikian, selisih harga benih ini akan tertutupi oleh keuntungan dari kelebihan produksi.

Cabai Keriting Hibrida

Sebenarnya, ada cukup banyak produsen benih dari luar negeri yang mendatangkan benih cabai keriting lokal dari Indonesia untuk dikembangkan menjadi benih keriting hibrida. Produsen tersebut antara lain East West Seed, Seminis Yang, Chia-Thai Seed (Tanindo), Oriental Seed dan Evergrow Seed (Taiwan). Belakangan ini, banyak produsen yang telah membuat varietas-varietas hibrida, termasuk cabai keriting, yang penelitian dan pengembangannya telah dilaksanakan di Indonesia. Contoh varietas keriting hibrida antara lain Boxer (Nunhems), Kastilo, Tanamo, Salero, dan Taro (East West Seed), serta Kunthi dan CTH-01 (Chia-Thai Seed). Adapun sifat-sifat beberapa varietas cabai keriting hibrida baru dan terlaris tersebut di antaranya sebagai berikut.

  1. Boxer. Mempunyai tipe percabangan lateral yang berimbang. Berbuah sangat lebat dengan ukuran buah standar cabai keriting. Hal yang menarik dari cabai ini adalah rasanya yang sangat pedas dengan tingkat kepedasan 50.000 SHU (Scofield Heating Unit) hampir sama dengan cabai rawit yang tingkat kepedasannya 55.000 SHU. Keunggulan lainnya adalah dapat dipanen pada saat umur 75—80 HST (Hari Setelah Tanam) di dataran rendah dan relatif tahan virus.
  2. Kastilo. Cabai keriting ini cocok untuk ditanam di dataran menengah hingga dataran tinggi. Tanaman tegak dengan ukuran buah standar cabai keriting. Tahan serangan penyakit layu bakteri dan Phytophthora. Potensi hasil sebesar 1,5 kg/tanaman dan dapat dipanen pada umur 107 HST.
  3. TM-999. Pertumbuhan tanaman cabai keriting TM-999 sangat kuat. Perbungaannya berlangsung secara terus-menerus sehingga dapat dipanen dalam jangka waktu yang panjang. Ukuran buahnya 12,5 cm x 0,8 cm dengan berat 5—6 g/buah. Cabai keriting hibrida ini sangat pedas. Cabai TM-999 cocok digiling dan dikeringkan. Produktivitas per tanaman berkisar 0,8—1,2 kg.
  4. Lado. Varietas Lado berpenampilan seperti halnya cabai keriting lokal pada umumnya, tetapi memiliki ukuran buah lebih besar. Cabai ini memiliki adaptasi penanaman yang sangat baik di daerah dataran rendah dengan umur panen berkisar 115—120 HST. Produktivitas per hektar cukup tinggi dengan potensi 18—20 ton per ha. Cabai varietas Lado banyak dikembangkan di daerah Lampung.New Taro. Varietas New taro merupakan perbaikan dari varietas Taro terdahulu. Varietas ini mampu beradaptasi baik di dataran rendah sampai dataran tinggi. New Taro seperti halnya Taro, mempunyai ukuran buah yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan cabai keriting TM-999. Sosok tanamannya besar dan kekar dengan ruas percabangan yang panjang. Produktivitas per tanaman berkisar 0,75—1,2 kg, tergantung kondisi terakhir tanaman.
  1. Princess. Varietas princess dapat ditanam di dataran rendah sampai tinggi dan mudah dalam perawatannya. Tipe tanaman tegak dan kuat. Tahan penyakit layu bakteri. Buah keriting dengan panjang ± 13,5 cm dan berdiameter ± 0,7 cm. Buah muda berwarna hijau tua dan setelah masak berwarna merah mengilap. Potensi hasil sebesar 25 ton/ha. Umur panen 80—85 HST. Buah tahan dalam penyimpanan dan pengangkutan.
  2. CTH-01. Cabai keriting hibrida CTH-01 mempunyai bentuk buah yang benar-benar keriting. Varietas ini mudah beradaptasi di daerah dataran rendah sampai tinggi dan mudah perawatannya. Tipe tanaman tegak, bentuk buah keriting dengan panjang ± 13 cm, diameter ± 0,6 cm, dan memiliki rasa yang pedas. Umur panen ± 85 HST. Tahan penyakit antraknosa buah dengan potensi hasil ± 20 ton/ha. Cabai ini mulai banyak ditanam petani di daerah Jawa Timur (Pare/ Kediri, Malang, dan Jember) dan Jawa Tengah (Pati, Blora, Kudus, dan Jepara).
Baca Juga:  Tak Disangka, Ternyata Ini Manfaat Kubis Ungu
loading...
loading...