Mengenal Varietas Kedelai Unggul Lokal

Pertanianku — Saat ini sudah tersedia beberapa varietas unggul kedelai lokal yang memiliki keunggulan berupa genjah, produktif, tahan pecah polong, dan kaya isoflavin. Berikut ini ulasan lebih detail mengenai varietas unggul kedelai lokal yang perlu Anda ketahui.

vareitas unggul kedelai lokal
foto; Pixabay

Kedelai Dega

Nama Dega pada kedelai ini diambil dari singkatan kedelai genjah. Kedelai Dega merupakan hasil perkawinan silang antara kedelai varietas Grobogan dan Malabar. Kedelai Grobogan terkenal produktif dan genjah. Sayangnya, kedelai ini hanya cocok ditanam di Grobogan, Jawa Tengah. Sementara itu, kedelai Malabar terkenal unggul karena daya adaptasinya yang tinggi.

Perkawinan silang di antara kedua jenis kedelai unggul tersebut menghasilkan varietas yang genjah, produktif, dan adaptif di segala lokasi. Keunggulan lain dari Dega ialah tahan terhadap serangan penyakit karat daun dan adaptif untuk dibudidayakan di lahan sawah. Biji Dega berwarna kuning cerah dan berbobot 22,98 gram per 100 biji. Kedelai Dega cocok diolah menjadi tempe.

Keunggulan berikutnya dari varietas Dega adalah produktif dengan rata-rata hasil panen yang mencapai 2,78 ton per hektare dan memiliki potensi hasil mencapai 3,82 ton per hektare.

Kedelai Detap 1

Kedelai Detap 1 terkenal tahan terhadap pecah polong. Nama Detap 1 berasal dari singkatan kedelai tahan pecah polong dan berasal dari hasil persilangan antara Anjasmoro dan galur G-511-H.

Keunggulan yang dimiliki Detap 1 membuat polong tidak mudah mengalami pecah meski panen ditunda. Penundaan panen menjadi biang kerok yang membuat polong pecah dalam waktu 3 hari. Panen yang tertunda sering kali disebabkan oleh terbatasnya jumlah tenaga kerja.

Kedelai yang mengalami pecah polong dapat mengurangi hasil panen lantaran biji kedelai berjatuhan ke tanah. Kondisi tersebut dapat membuat petani kehilangan hasil panen sekitar 30–100 persen.

Baca Juga:  Atasi Asam Urat dengan Buah Adas

Kedelai Devon 2

Kedelai Devon 2 memiliki keunggulan berupa kandungan isoflavon yang lebih tinggi mencapai 303,7g, sedangkan Anjasmoro hanya sekitar 187,27g. Devon 2 juga tergolong produktif dengan potensi hasil mencapai 2,89 ton per hektare dengan rata-rata hasil panen yang menccapai 2,67 ton per hektare. Bila dibandingkan dengan Devon 1, Devon 2 memiliki ukuran biji yang lebih besar mencapai 17 gram per 100 biji, sedangkan Devon 1 hanya 13 gram. Selain itu, Devon 2 juga tergolong lebih genjah.