Mengenali Budidaya Abalon, Komoditas Perikanan Bernilai Tinggi

Pertanianku— Abalon merupakan komoditas perikanan yang bernilai tinggi. Di beberapa negara maju, seperti Eropa dan Amerika Utara cenderung menyukai siput mahal ini. Itu sebabnya budidaya abalon dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Namun, sayangnya, budidaya abalon Indonesia masih belum berkembang dengan masif. Berikut ini ulasan lebih lanjut mengenai budidaya abalon.

budidaya abalon
foto: Pixabay

Lokasi budidaya

Lokasi pembesaran abalon adalah perairan karang yang terlindung dari gelombang dan angin yang kuat. Selain itu, air di kawasan tersebut harus bersih, jernih, kondisi suhu berkisar 27–30C, salinitas 29–33 ppt, pH 7,6–8,1, dan DO 3,27–6,28 ppm. Bila abalon dibudidayakan di dalam bak, kualitas air di dalam wadah tersebut harus diusahakan sama seperti di perairan karang.

Anda dapat memilih wadah budidaya berupa tangki fiberglass atau bak beton berukuran 3 m × 2 m × 1 m. Wadah tersebut berbentuk segi empat dan berada di dalam ruang tertutup. Setelah itu, tambahkan lembaran plastik tipis bergelombang ukuran 30 cm × 40 cm sebanyak 21 lembar. Lembaran tersebut dipasang tegak lurus menggantung di dalam bak pemeliharaan. Lembaran ini berfungsi sebagai tempat menempel abalon.

Budidaya

Benih abalon sudah disediakan oleh beberapa instansi pemerintah. Pembenihan abalon dimulai dengan pematangan calon induk. Selama proses pematangan, abalon diberikan makan rumput laut Gracilaria.

Setelah ukuran cangkang sudah mencapai 5 mm, pindahkan abalon ke dalam bak yang lebih besar berukuran sekitar 1.000 liter. Pada awal pembesaran pakan yang diberikan mikroalga yang menempel pada lembaran plastik. Selanjutnya, pakan diganti secara bertahan dengan jenis Gracilaria sp. dan Acanthophora sp.

Abalon merupakan hewan herbivora yang menyukai alga merah, alga cina cokelat, dan alga hijau. Selama masa pemeliharaan, abalon diberikan Gracilaria sebanyak 10 persen dari bobot.

Baca Juga:  Kampung Perikanan Budidaya untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi Masyarakat

Setelah memasuki proses pembesaran, Anda bisa menggunakan metode tancap (pen-culture) dan metode rakit.

Hama dan penyakit

Predator yang perlu Anda waspadai adalah kepiting laut. Hama ini dapat dikendalikan dengan cara membersihkan hama secara manual. Anda juga perlu waspada dengan pathogen bakteri yang pernah membuat kematian massal di dalam tangki pembesaran.

Panen

Panen sudah bisa dilakukan ketika abalon sudah mencapai ukuran 8 cm (30–40 gram). Saat ini hasil budidaya abalon dijual dalam bentuk diawetkan. Pengawetan dilakukan dengan cara didinginkan/dibekukan.