Mengendalikan Penggerek Tebu dengan Trichogramma japonicum

Pertanianku Trichogramma japonicum merupakan musuh dari penggerek tebu, sosoknya mungil berukuran sekitar 0,4–0,9 mm. Musuh alami ini membutuhkan telur dari hama ngengat Scirpophoga vinella ketika akan bertelur. Biasanya, telur hama berada di bagian bawah dedaunan.

penggerek tebu
foto: Pixabay

Hama penggerek tebu termasuk momok bagi petani tebu karena dapat menurunkan tingkat produksi sebanyak 50 persen. Dalam satu periode bertelur, hama dapat langsung mengeluarkan 10–80 butir. Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu 7 hari dalam suhu hangat dan 10–12 hari saat dingin.

Induk Trichogramma yang bertelur akan mencari telur hama penggerek tebu, kemudian memasukkan telur-telurnya ke telur penggerek. Saat telur menetas dan mengeluarkan larva, telur penggerek tersebut akan hancur. Bila tidak hancur, telur tersebut akan menghasilkan larva yang dapat membahayakan tanaman tebu. Fase hidup larva hanya berlangsung 5–6 pekan. Setelah itu, larva berupa menjadi pupa, kemudian ngengat.

Penggerek tebu bisa menghancurkan tanaman tebu dalam waktu 30 hari. Hama ini dapat menyerang seluruh tanaman tanpa pandang bulu. Tanaman yang berumur 1,5–2 bulan tergolong paling rentan diserang.

Serangan yang terjadi pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian. Sementara itu, serangan yang terjadi pada tanaman berumur lima tahun atau lebih dapat menyebabkan terbentuknya siwilan atau tunas samping. Tunas samping tersebut mengakibatkan produksi tebu menurun.

Oleh karena itu, pekebun tebu sering menantikan Trichogramma sp datang ke kebun. Semakin banyak parasit tersebut, semakin banyak pula telur penggerek yang gagal berkembang. Hal ini karena telur-telur tersebut menjadi santapan lezat anak-anak parasit.

Sebenarnya, Trichogramma sp termasuk parasit yang bersifat polifag atau memiliki banyak inang dan mudah beradaptasi. Keberadaan parasit dipengaruhi oleh suhu dan cuaca udara.

Baca Juga:  Kementan Minta Pemda Proteksi Harga TBS Pekebun

Pengendalian hama penggerek tebu dengan parasit ini terbukti cukup efektif untuk menghemat biaya pestisida dan menjaga lingkungan. Berdasarkan pengalaman, biaya pestisida dapat menurun sebanyak 73,4 persen dan biaya tenaga kerja berkurang 27 persen.

Parasit ini tergolong mudah dibiakkan sehingga petani bisa melakukannya sendiri. Perbanyakan masalah Trichogramma sp dapat dilakukan dengan memanfaatkan telur serangga hama gudang yang tersedia sepanjang waktu. Hama tersebut bisa berupa ulat beras.