Mengulas Sejarah Talas


Pertanianku – Tanaman talas merupakan sayuran yang hamper seluruh bagiannya dapat dionsumsi. Dari daun, tangkai daun, pelepah, umbi induk dan umbi anakan dapat dimakan. Bagian yang tidak dapat dimakan hanyalah akar-akar serabutnya.

Mengulas Sejarah Talas

Menurut F. Rahardi, Pengamat Agribisnis, talas sudah dibudidayakan masyarakat Indonesia khususnya daerah Jawa sejak zaman pra sejarah. Talas tersebut adalah Colocasia esculenta, dan asli dari Asia Tenggara, terutama Jawa.

Tanaman ini bermigrasi ke India dan ke timur yaitu Kepulauan Pasifik Selatan sejak sekitar 25.000 tahun yang lalu. Pada abad VI, talas masuk ke kepulauan Hawaii, dan di sini dikeramatkan serta dianggap sebagai titisan roh nenek-moyang. Menu khas Hawaii berbahan talas adalah poi (umbi), dan lau-lau (daun). Menu talas yang dijadikan cake maupun lau-lau sudah masuk Restoran McDonalds  di Honolulu. Talas juga terus bermigrasi ke barat sampai Nigeria. Sekarang, Nigeria merupakan penghasil utama talas. Dalam bahasa Inggris, talas disebut taro. Tapi yang disebut taro bukan hanya Colocasia esculenta, melainkan juga keladi (Xanthosoma sagittifolium), senthe (Alocasia macrorrizos), dan pulaka (Cyrtosperma merkusii).

Di Indonesia, senthe dan pulaka tidak dimakan. Sedangkan yang paling banyak dikenal sebagai talas adalah Colocasia esculenta. Padahal masih banyak jenis talas lokal di Indonesia yang belum terjamah alias dikenal orang. Misalnya saja Talas Beneng (Xantoshoma undipes K. Koch) yang asli berasal dari Banten dan baru diperkenalkan pada 2008.

Ada tiga varietas talas Colocasia esculenta:

  1. Colocasia esculentavarietas esculenta (talas darat, talas bogor).
  2. Colocasia esculentavarietas aquatilis (talas air, bentul).
  3. Colocasia esculentavarietas antiquorum (kimpul plecet, talas dempel, satoimo). Tiga varietas talas ini asli Asia Tenggara, terutama Jawa.
Baca Juga:  Cara Menanam Kentang Menggunakan Mulsa