Menilik Kontribusi Pertanian Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Pertanianku – Salah satu penggerak ekonomi Indonesia berada di sektor pertanian. Kini sektor pertanian tengah digenjot guna mewujudkan swasembada oleh sejumlah komoditas pertanian. Bahkan, pemerintah berencana menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 mendatang.

Foto: pexels

“Untuk beras, bawang merah, dan cabai, Indonesia sudah tidak impor sejak tahun lalu. Untuk jagung, hingga saat ini kami belum keluarkan rekomendasi impor, dan bahkan bawang merah, kami balikkan keadaan dengan mengekspor ke Thailand dan direncanakan juga untuk beberapa negara Asia Tenggara,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam keterangan tertulis, seperti melansir detikfinance (25/8).

Berdasarkan peta jalan lumbung pangan dunia, tahun ini Kementan menargetkan swasembada jagung. Selain itu, swasembada bawang putih dan gula konsumsi di 2019.

Pada 2020 komoditas yang ditargetkan swasembada adalah kedelai, pada 2024 gula industri, pada 2026 daging sapi, dan pada 2045 diharapkan Indonesia sudah menjadi Lumbung Pangan Dunia.

Mentan Amran menyebutkan Kementerian Pertanian memiliki tekad untuk mengembalikan kejayaan kopi, rempah serta komoditas perkebunan lainnya dan subsektor hortikultura. Untuk itu, Kementan menyiapkan anggaran sebesar Rp5,5 triliun untuk dua subsektor tersebut.

“Kita optimistis bisa wujudkan. Tahun ini kita mulai kerjakan dengan memberi bantuan paket komplet secara gratis,” ungkap Menteri Amran.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), bila dilihat dari sisi produksi, sektor pertanian merupakan sektor kedua yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, setelah industri pengolahan, dan masih di atas sektor perdagangan dan konstruksi.

Untuk triwulan II-2017 ini, sektor pertanian dalam arti luas menyumbang sebanyak 13,92%, sedangkan pada triwulan-I 2017 kontribusinya 13,59%. Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi kali ini cukup baik.

Baca Juga:  Saatnya Petani Rambah Sektor Hilir

“Kita cuma di bawah Cina 6,9 persen. Dengan kondisi ketidakpastian perekonomian global dan penurunan harga komoditas, hasil ini cukup bagus,” ungkap Suhariyanto.

loading...
loading...