Menparekraf Luncurkan Sepatu Ramah Lingkungan Berbahan Biosilika Sekam Padi

Pertanianku — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno baru saja meluncurkan produk sepatu biosneakers Node yang terbuat dari bahan baku serat alam lokal. Nanobiosilika yang terdapat di dalam sepatu tersebut merupakan hasil riset Balai Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan).

sepatu biosneakers Node
foto: litbang.pertanian.go.id

Sandiaga menilai ide biosnenakers ini sangat cemerlang karena menggabungkan produk ekonomi kreatif dengan tren sneakers yang sedang populer saat ini.

“Jadi konsep alas kaki dengan bahan baku alami berkelanjutan. Istilahnya sepatu ini kalau kita tanam di dalam tanah sekitar satu tahun mungkin sudah bisa terurai,” terang Sandiaga seperti dikutip dari laman litbang.pertanian.go.id.

Nama Node pada produk sepatu ini merupakan singkatan dari No Deforestation. Sneakers Node merupakan biosneakers yang terbuat dari 95 persen bahan organik yang ramah lingkungan sehingga limbah sepatu ini dapat terurai secara alami.

Sol bagian luar biosneakers ini terbuat dari karet alam yang dicampur dengan biosilika dari sekam padi hasil inovasi Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian.

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry menjelaskan bahwa biosneakers ini merupakan salah satu bentuk kontribusi dari Balibangtan dalam memanfaatkan limbah dari produksi pertanian, dalam hal ini adalah jerami dan sekam.

Fadjry menerangkan produk biosneakers yang telah berhasil diciptakan merupakan salah satu lompatan inovasi yang bermanfaat. Pasalnya, pembuatan biosneakers ini mampu memanfaatkan limbah pertanian, meningkatkan nilai tambah, daya saing, substitusi impor, dan menjaga pelestarian lingkungan. Dengan demikian, tanaman padi tidak hanya menghasilkan beras, tetapi juga dapat menghasilkan sneakers yang digemari banyak orang.

“Kementerian Pertanian terus mendorong penciptaan inovasi yang mampu memberikan nilai tambah pada hasil pertanian secara berkelanjutan, seiring upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan petani dan kelompok masyarakat lainnya,” papar Fadjry.

Baca Juga:  Teknologi Pengelolaan Air dan Iklim di Food Estate Humbahas

Fadjry mengungkapkan bahwa Balitbangtan telah memiliki teknologi-teknologi yang bisa diakses oleh pelaku industri sehingga Balitbangtan sudah siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat Indonesia.

Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Balitbangtan, Prayudi Syamsuri menjelaskan bahwa jumlah gabah di Indonesia per tahun mencapai 55 juta ton dan sekam padi sebanyak 11 juta ton.

“Dari 1 ton sekam, mampu menghasilkan 150—200 kg silika. Itu artinya bisa sampai 2,2 ton silika per tahun dari seluruh limbah sekam padi,” terang Prayudi.