Mentan Merilis 3 Jenis Vaksin Hewan pada Hari Rabies Sedunia

Pertanianku — Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo merilis 3 vaksin hewan baru yang merupakan hasil penelitian jajaran Kementerian Pertanian pada acara puncak peringatan Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day) yang digelar di Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya. Pada kesempatan tersebut, Syahrul mencanangkan Indonesia mampu bebas rabies pada 2030.

vaksin hewan
foto: Pixabay

Jenis vaksin yang baru saja dirilis oleh Mentan adalah vaksin Neo Rabivet yang sudah terintegrasi, terverifikasi, dan memenuhi persyaratan CPOHB. Jenis selanjutnya adalah vaksin Alfuvet HiLow, vaksin ini merupakan kombinasi antara H5N1 dan H9N2. Vaksin ketiga adalah serum Scovet ASF, vaksin ini merupakan produk biologi berupa serum konvalesen African Swine Fever dari babi yang sembuh dari penyakit ASF.

“Ketiga produk hasil penelitian dan pengembangan Kementan tersebut sangat penting, mengingat Indonesia adalah negara pengekspor babi terbesar yang cukup diperhitungkan. Apalagi virus adalah lawan yang tidak kelihatan dan bisa masuk ke semua sektor,” tutur Syahrul seperti dilansir dari laman ditjenpkh.pertanian.go.id.

Syahrul mengatakan rabies merupakan masalah kesehatan besar yang perlu ditangani bersama, termasuk kepala daerah dan semua pihak yang terlibat di sektor peternakan ataupun pemeliharaan. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan mengedepankan implementasi one health.

“Karena penanganan hewan itu bukan sesuatu yang mudah. Kenapa begitu? Karena virus rabies itu bukan hanya kita yang kena, tetapi tetangga juga kena. Apalagi kalau di tempat wisata. Ini bahaya banget,” kata Syahrul.

Sejalan dengan Mentan, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah, menegaskan, jajarannya berkomitmen untuk menjalankan program pengendalian dan pemberantasan rabies untuk Indonesia yang lebih berkualitas. Nasrullah menjelaskan, saat ini Kementan sudah mengalokasikan vaksin dan operasional pengendalian rabies, khususnya di daerah dengan risiko tertinggi.

Baca Juga:  Green Concentrate Pellet, Pakan Kambing Berkualitas Tinggi

“Untuk daerah tertular risiko tinggi, kita upayakan alokasi vaksin sebanyak 70 persen populasi hewan penular rabies. Sedangkan untuk daerah risiko rendah dan bebas, alokasi vaksin cukup untuk vaksinasi tertarget dan vaksinasi darurat,” terang Nasrullah.

Nasrullah menambahkan, Ditjen PKH sudah bekerjasa sama dengan mitra kerja internasional seperti FAO, AIHSP, dan USAID dalam pengendalian dan penanggulangan rabies.