Mentan Sebut Stok Beras di Cipinang Aman


Pertanianku – Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur mencapai dua kali lipat. Itu berarti stok beras dalam kondisi aman. Bahkan, Menteri Pertanian (Mentan) juga telah memastikan melimpahnya produksi beras di Indonesia.

Saat ini stok di PIBC mencapai 53 ribu ton. Sementara, pada 2013—2014 stok beras di PIBC hanya sekitar 20 hingga 25 ribu ton.

“Naik 100 persen,” terangnya ketika melakukan Operasi Pasar di PIBC, (10/10).

Menteri Amran mengatakan program “Tiada Hari Tanpa Tanam” yang bertujuan mendorong produksi padi di tanah air. Memasuki musim hujan yang terjadi saat ini, disampaikan Mentan bahwa hal tersebut akan berdampak pada panen Januari 2018 mendatang. Sementara, panen raya akan terjadi pada Februari—Maret 2018.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya, tingginya produksi tersebut tidak sejalan dengan pasokan beras medium yang saat ini justru berkurang. Menteri Amran pernah mengatakan, berkurangnya beras medium karena panen masa kemarau merupakan gabah kualitas baik yang menghasilkan beras premium.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menggelar operasi pasar. Operasi pasar beras yang dilakukan di PIBC ini untuk memenuhi kebutuhan beras medium yang sebenarnya ada.

“Dengan digelontorkannya ini (operasi pasar) maka beras medium akan keluar dari lubang-lubang jarum karena kalau disimpan akan busuk,” ungkap Mendag.

Operasi pasar dilakukan di PIBC Jakarta, mengingat Jakarta merupakan ukuran nasional dan Cipinang menjadi barometer. Hari ini sebanyak 130 ton dikeluarkan dari 25 ribu ton yang diminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, kata dia, tidak menutup kemungkinan terjadi penambahan jika diperlukan.

“Mau sampai kapan pun kami gelontorkan. Berapa pun kami gelontorkan untuk rakyat,” ujar dia.

Baca Juga:  Swasembada Beras Berlanjut, Ini Cara Kementan Mewujudkannya

Menteri Enggar tak hanya melakukan operasi pasar, pihaknya bersama Satuan Tugas (Satgas) kota Jakarta akan turun untuk memantau keberadaan beras jika ada kekurangan. Bahkan, timnya akan melakukan pengecekan gudang. Tanpa ketegasan yang dilakukan Satgas, ia melanjutkan, stabilitas harga tidak akan tercapai.

Sementara itu, pemerintah menerapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk menjaga daya beli masyarakat. Sementara, jika komoditas strategis ini tidak ditetapkan HET-nya, bulan lalu dan bulan ini diakui Enggar beras sudah dijadikan spekulasi.

“Kita belum ada undang-undang pengendalian harga seperti Malaysia dan Filipina. Tapi kita bisa mengendalikannya,” tambahnya.

HET untuk beras medium ditentukan sebesar Rp 8.100 per kilogram, sedangkan Rp 12.500 per kilogram untuk beras premium. HET ini tidak ditentukan berdasarkan kesewenangan, tetapi melalui tahap diskusi yang berakhir dengan kesepakatan.

“Pedagang itu ingin untung besar tapi kalau disentuh nasionalismenya, mereka rela mengurangi keuntungannya demi merah putih,” tutup Mendag.

loading...
loading...