Meraup Untung Ratusan Juta dari Bisnis Pupuk Olahan Sampah

Pertanianku – Siapa bilang sampah rumah tangga tidak bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Hal ini dibuktikan oleh Faizal Alfansury yang sukses mengolah sampah menjadi pupuk organik dan media tanam bernilai jual tinggi. Bahkan, dengan usaha yang ia rintis ini, Faisal juga turut membantu perekonomian warga sekitar tempat tinggalnya di kawasan Bintaro, Tangerang.

Usaha ini sudah digelutinya sejak 2013 lalu. Berawal dari kekesalannya atas penumpukan sampah di lingkungan perumahannya, lantaran tukang sampah baru mengambil sampah warga setiap tiga minggu sekali. Akhirnya, pria berusia 23 tahun ini mengolah sampah-sampah tersebut menjadi pupuk. Dengan modal Rp50 juta, ia menyewa lahan sekitar 1.000 meter persegi di daerah Cilegag, untuk dijadikan lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Saat itu, saya tidak tahu cara pengolahannya, saya belajar melalui internet, pokoknya learning by doing,” ujar Faisal.

Saat itu, dia merasa kesulitan dan menuai banyak protes dari warga setempat karena mengganggu lingkungan. Tetap semangat, akhirnya Faizal menuai sukses.

Kini, dalam lima hari ia dapat menghasilkan sekitar 480 kilogram (kg) pupuk organik dan media tanam. Hasil produksinya dijual kepada para distributor dan pembudidaya tanaman dengan harga sekitar Rp9.000 per pack untuk pupuk organik dan Rp12.000—Rp14.000 untuk media tanam.

Sayangnya, ia enggan menyebutkan omzet usahanya ini. Untuk bahan baku sampah, ia mengambilnya dari restoran dan komplek perumahan. Sampai sekarang, ia telah menjalin kerja sama dengan tujuh restoran yang berada di wilayah Tangerang Selatan.

Lahan TPA-nya pun sudah dipindah ke lokasi yang lebih luas di daerah Pamulang. Dalam sehari ia dapat mengumpulkan sekitar 1,6 ton sampah rumah tangga, baik organik maupun non-organik.

Untuk proses pengolahannya, Faisal dibantu delapan orang karyawan tetap dan sejumlah orang karyawan lepas yang semuanya berasal dari warga sekitar. Kegiatan ini cukup membantu kondisi ekonomi warga karena kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh serabutan.

Lebih lanjut Faisal mengungkapkan bahwa tidak mudah mencari karyawan yang mau bekerja dengannya karena pekerjaan ini kotor dan berhubungan dengan sampah. Oleh karena itu, ia selalu menjalin hubungan baik dengan para karyawan serta keluarganya.

Belakangan, Faizal juga memanfaatkan langsung pupuk organik buatannya untuk pertanian cabai yang baru dirintisnya. Ia mengembangkan pertanian cabai di lahan seluas 6.000 meter persegi dengan melibatkan para petani setempat dengan sistem bagi hasil, yakni 70% untuk perusahaannya dan 30% sisanya untuk petani.

loading...
loading...