Metode Triple Helix untuk Mempercepat Pengembangan Sapi Bali

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung pengembangan industri sapi bali dengan metode triple helix di Kabupaten Buleleng. Metode ini merupakan model inovasi yang membutuhkan kontribusi akademisi, industri, dan pemerintah untuk mendukung perkembangan secara ekonomi dan sosial.

sapi bali
foto: pertanianku

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan (Dirjen PKH) I Ketut Diarmita melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Kemitraan Triple Helix di Kantor Gubernur Bali pada Senin (3/8).

“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Bali dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) atas Penandatanganan Nota Kesepahaman ini. Industri peternakan tidak akan pernah bisa tumbuh dan berkembang jika tidak didukung oleh sinergi seluruh pihak,” tutur Ketut Diarmita seperti dikutip dari laman pertanian.go.id.

Ketut menyampaikan semua komponen seperti pemerintah, pengusaha, dan akademisi (dalam hal ini Universitas Pendidikan Ganesha dan Central Queensland University) sudah siap untuk mendukung pengembangan industri sapi bali.

Selain itu, sudah ada pengembangan program studi peternakan dan teknologi pascapanen yang berguna untuk mendukung kesinambungan penyediaan sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang terkait.

Pelaksanaan metode triple helix ini dilakukan untuk pengembangan ketahanan pangan di Provinsi Bali yang merupakan salah satu kegiatan untuk mendukung Program Prioritas Ketersediaan, Akses, dan Kualitas Konsumsi Pangan.

Sementara itu, kerja sama antara Bappenas, Pemda Kabupaten Buleleng, Universitas Pendidikan Ganesha, Trade and Investment Queensland Australia dan Central Queensland University merupakan kerja sama untuk melakukan penelitian dan pengembangan. Seperti pengembangan aplikasi teknologi yang mutakhir dan memastikan rantai pasokan bisa terus berkelanjutan untuk mendukung program pengembangan ternak, khususnya ternak sapi di Bali.

Tujuan dilaksanakan metode pengembangan tersebut adalah agar mendukung pencapaian target pembangunan pangan dan pertanian dalam RPJMN 2020—2024. Selain itu, metode ini sangat berguna untuk pengembangan program studi peternakan dan teknologi pascapanen yang dapat melahirkan sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang peternakan.

Baca Juga:  Trik Menghindari Risiko Kematian DOC Ayam Petelur pada Periode Kritis

Ketut menjelaskan, sapi bali merupakan komoditas unggulan dengan kinerja biologis yang baik dan merupakan salah satu jenis sapi potong unggulan di Indonesia dalam segi reproduksi, adaptasi, dan tahan terhadap infeksi penyakit. Selain itu, persentase karkas sapi bali juga tinggi. Oleh karena itu, sapi bali tidak boleh sampai punah, masyarakat harus menjaga keberlangsungan populasinya.


loading...