Minimnya Kematian Pada Ternak Broiler


Pertanianku – Pada umumnya, peternakan broiler rawan akan serangan penyakit, baik dari luar ataupun dalam kandang. Namun, dengan masa pemeliharaan yang lebih singkat, risiko terkena penyakit akan lebih kecil. Semakin cepat broiler dipanen, risiko kerugian akibat penyakit dapat diminimalkan.

Ternak Broiler Minim Kematian

Pada ayam besar, penyakit mudah muncul karena kotoran akan semakin menumpuk pada sekam. Dengan demikian, kadar amoniak dalam kandang akan semakin tinggi yang memacu timbulnya penyakit pernafasan seperti CRD dan snot. Jika CRD sudah menginfeksi, daya tahan tubuh ayam akan menurun dan bisa memicu penyakit lain seperti colli, ND, chlorela, bahkan avian influenza.

Pada Tabel 2, berdasarkan wawancara dengan beberapa peternak broiler, rata-rata tingkat kematian broiler yang dipanen pada umur lebih dari 35 hari memiliki tingkat kematian sekitar 5%. Bahkan, ada beberapa peternak yang mengaku tingkat kematiannya bisa mencapai di atas 10% jika ada kasus penyakit. Namun, broiler yang dipanen pada umur 22 hari tingkat kematiannya rata-rata hanya 2%. Hal itu menunjukkan bahwa tingkat risiko kematian panen muda lebih kecil.

Semakin besar ukuran ayam, risiko kematian mendadak semakin tinggi. Pertumbuhan ayam yang terlalu cepat tidak diiringi dengan perkembangan paru-paru (kapasitas paru-paru tidak sebanding dengan bobot badannya). Akibatnya, suplai oksigen ke jantung kurang, kerja jantung terlalu berat, lalu akhirnya menyebabkan kematian ayam.Oleh karena itu, dengan memanen broiler lebih cepat, kejadian kejadian seperti kematian mendadak bisa dihindari. Setidaknya, risiko kematian dapat diperkecil.

 

Sumber: Buku Ayam Broiler, 22 Hari Panen Lebih Untung

 

Baca Juga:  Guna Menekan Harga, Tata Niaga Daging Sapi Perlu Diubah
loading...
loading...