Minum Jamu Sebagai Obat Herbal Juga Harus Ada Dosisnya


Pertanianku — Banyak orang meminum jamu sebagai obat herbal. Minuman tradisional ini dipercaya bisa menyembuhkan penyakit secara alami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

jamu sebagai obat herbal
Google Image

Jamu sendiri memiliki ragam seperti beras kencur, kunyit asem, temulawak, pahitan, cabe puyang, hingga uyup-uyup. Pembuatan jamu menggunakan bahan dasar dari rempah-rempah dan akar-akaran seperti kunyit, jahe, asam, sirih, pahitan sampai gula jawa.

Semua bahan alami tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kencing manis, kolesterol, pegal linu, menurunkan berat badan, dan sebagainya.

Seperti kita ketahui, berbagai resep dan khasiat jamu memang sudah dikenal turun-temurun. Hanya saja, dari dunia medis termasuk para dokter mengaku belum bisa berbicara banyak tentang khasiatnya. Mereka menilai, jamu merupakan obat turun temurun yang setiap pembuatannya hanya berdasarkan resep nenek moyang.

“Kalau jamu ini ‘kan macam-macam dan masing-masing ‘bumbunya’ memiliki efek yang berbeda dan dibilang sebagai herbal. Ini tidak sama dengan obat yang sudah melewati penelitian. Kalau ini (jamu) kan enggak, (hanya) berdasarkan ilmu turun-temurun,” ujar Fiastuti Witjaksana, dokter gizi klinik dari MRCCC Siloam Semanggi dikutip dari CNNIndonesia.

Menurur Fiastuti, karena belum adanya penelitian ilmiah tersebut, menyebabkan terbatasnya informasi soal ‘dosis’ dan juga siapa saja yang diperbolehkan untuk mengonsumsi jamu.

“Padahal, minum jamu juga harus punya takarannya sendiri. Dengan kata lain, minum jamu tak bisa disamakan seperti minum air putih yang bisa dinikmati setiap saat,” tuturnya.

Fiastuti menyayangkan banyak orang yang belum tahu tentang hal ini. Dengan begitu, membuat banyak orang akhirnya punya kebiasaan buruk untuk minum jamu secara berlebihan.

Setiap orang juga memiliki kebiasaan yang berbeda saat mengonsumsi jamu. Pada produk jamunya sendiri juga tidak disebutkan berapa banyak takaran bahan yang digunakan serta efek samping usai meminumnya. Padahal, ini berpengaruh pada jumlah dan frekuensi minum.

Baca Juga:  5 Bahan Alami untuk Membuat Facial Mist Sendiri di Rumah

“Tidak ada aturan yang jelas, kadang-kadang juga kalau jamu yang enteng seperti beras kencur mungkin tidak ada efeknya, tapi ada juga jamu yang efek porosis karena asamnya terlalu banyak. Ini bisa menimbulkan kerusakan lambung, kerusakan ginjal juga bisa. Tidak ada dosis yang jelas,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman Fiastuti, beberapa kali ia pernah menerima pasien yang mengalami kerusakan lambung seperti bocor dan bolong serta kerusakan ginjal akibat minum jamu. Meski demikian, Fiastuti enggan mengatakan jamu apa yang diminum oleh pasiennya tersebut.

Maka disarankannya, jika ingin meminum jamu lebih baik memastikan bahan apa yang digunakan dan tidak dalam takaran yang berlebihan.

loading...
loading...