Miris, Industri Garam di Jawa Barat Gulung Tikar!


Pertanianku – Beberapa waktu belakangan ini, industri garam di Indonesia memang sedang pasang surut. Salah satunya industri garam yang ada di Jawa Barat dipastikan tidak akan lagi beroperasi akibat gagal panen. Hal inilah yang membuat Industri Kecil Menengah (IKM) semakin terjepit.

Foto : Wikipedia

Industri Kecil Menengah (IKM) yang memproduksi garam untuk pasokan Jawa Barat dipastikan tidak ada lagi yang beroperasi akibat gagal panen. Kegagalan terjadi mulai 2016 hingga saat ini.

“Di Cirebon ada 25 dan Indramayu ada 7 IKM. Semuanya tutup,” kata Ketua Asosiasi Petani Garam Seluruh Indonesia (APGASI) Korwil Jabar Muhammad Taufik Kurahim saat dihubungi melalui ponselnya, Rabu (12/7/2017).

Taufik menjelaskan, satu IKM bisa mempekerjakan 20—30 orang. Artinya, dengan banyaknya industri pengolahan garam yang ditutup, ratusan orang kehilangan pekerjaan.

“Tahun 2016 itu produksi 0. Semua IKM sudah tutup mulai bulan Maret 2017 lalu,” ucapnya.

Akibat kelangkaan garam, beberapa hari ini tidak kurang dari 2 ton ikan hasil tangkapan nelayan Cirebon dan Indramayu membusuk akibat sulitnya mendapatkan bahan tersebut sebagai pengawetan ikan.

“Untuk pengawetan sebenarnya bisa menggunakan formalin, tapi untuk dikonsumsi masyarakat dampaknya berbahaya,” ucapnya.

Terkait dengan hal itu, Sekretaris Jenderal Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Cucu Sutara meminta agar pemerintah cepat tanggap segera membuka keran impor garam.

Hal ini lantaran industri besar sangat membutuhkan garam untuk kegiatan produksinya.

Menurut Cucu, pemerintah tidak perlu gengsi untuk mengimpor garam dari luar negeri demi industri-industri besar dalam negeri yang menyumbang devisa cukup besar untuk negara.

Selama ini, kebutuhan garam untuk industri CAP (Chlor Alkali Plant) mencapai 2,50 ton per tahun. Sementara itu, untuk konsumsi rumah tangga dan industri lain termasuk aneka pangan membutuhkan 2,18 juta ton atau total keseluruhan mencapai 4,23 juta ton per tahun.

Baca Juga:  NTT Siap Ekspor Bawang Merah Organik

Selama ini, produksi garam dalam negeri Indonesia dalam kondisi normal mencapai 1,9 juta ton per tahun. Sisanya masih mengandalkan garam impor. Sejak 2016 lalu, tidak ada produksi garam di Indonesia akibat gagal panen yang disebabkan cuaca buruk.

“Devisa aneka pangan 20 miliar dolar AS. Sementara untuk impor bahan garam sebenarnya cuma 19 dolar AS. Devisanya jauh lebih besar,” tuturnya.

loading...
loading...