Mitos dan Fakta Telur yang Sesungguhnya


Pertanianku — Menurut ahli gizi Brigitte Zeitlin, telur merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan otot yang sehat dan kuat. Namun, seringkali tersebar mitos beredar di lingkungan masyarakat. Lalu, apa saja mitos dan fakta telur yang sesungguhnya?

mitos dan fakta telur
Foto: Pixabay

Satu butir telur berukuran besar mengandung sekitar 6 gram protein dan hanya 72 kalori. Telur juga kaya akan nutrisi penting seperti biotin yang mengubah makanan menjadi energi, kolin, vitamin A, serta anti-oksidan lutein dan zeaxhantin.

“Telur juga satu-satunya makanan yang bisa memproduksi vitamin D secara alami dan menjaga tulang tetap kuat,” kata Zeitlin.

Namun di luar itu semua, salah satu hal yang masih sering diragukan, yaitu mengenai manfaat kuning telur. Apakah kuning telur baik atau buruk untuk kesehatan. Selama bertahun-tahun, kuning telur sering dianggap tidak sehat karena mengandung kolesterol.

Satu butir telur berukuran besar mengandung 186 mg kolesterol, di mana jumlah konsumsi kolesterol yang dianjurkan dalam sehari kurang dari 300 mg. Tingginya kandungan kolesterol ini membuat telur dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

Meski demikian, menurut ahli gizi Ryan Maciel, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kolesterol yang berasal dari makanan tidak terlalu berdampak pada tingkat kolesterol di dalam darah. Selain kolesterol, kuning telur juga mengandung nutrisi lainnya. Kuning telur tinggi akan zat besi, folat, vitamin, lutein, dan zeaxhanthin seperti kandungan telur secara keseluruhan.

“Walaupun kuning telur mengandung protein lebih sedikit dari putih telur, kuning telur mengandung sejumlah nutrisi sehat seperti lemak sehat, asam lemak esensial, dan anti-oksidan,” kata Maciel.

Ahli nutrisi juga lebih menganjurkan untuk memakan telur secara keseluruhan daripada hanya putih telur atau kuning telurnya. Hanya memakan putih telur dan menyingkirkan bagian kuningnya sama saja dengan membuang separuh kandungan protein pada telur.

Baca Juga:  Apakah Manfaat Susu A2 Sama dengan Susu Sapi Biasa?

Selain kehilangan setengah kandungan protein, nutrisi lainnya seperti vitamin D, E, A, kolin, dan anti-oksidan juga tidak bisa didapatkan. Terkait bahaya kolesterol pada kuning telur, menurut 2015 Dietary Guidelines, risiko penyakit jantung lebih besar karena faktor genetik serta gaya hidup yang tidak sehat termasuk kurang olahraga.

Faktanya, penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang mengonsumsi sebutir telur sehari berisiko lebih rendah mengalami penyakit jantung dan stroke. Kemungkinan hal itu dikarenakan tingkat kolesterol baik (HDL) dalam telur sangat tinggi.

Bagi mereka yang masih khawatir, tidak sedikit dari mereka mencoba mengonsumsi telur organik. Penelitian menunjukkan bahwa praktik peternakan organik memang lebih baik untuk lingkungan. Selain itu, menurut Maciel, telur organik lebih sehat karena saat pemeliharaan mereka lebih bahagia tidak seperti ayam di peternakan konvensional.

Mengonsumsi makanan yang berasal dari bahan organik dapat mengurangi konsumsi antibiotik, bahan-bahan kimia, dan juga logam berat. Namun, tidak ada jaminan telur-telur organik itu terbebas dari kontaminasi bakteri salmonella.

Di luar semua itu, cara terbaik mengonsumsi telur, yaitu dengan memasaknya. Selain menurunkan risiko keracunan makanan, telur yang dimasak membuat kandungan protein lebih mudah dicerna serta bisa meningkatkan bioavailabilitas biotin.

Beberapa pilihan cara dalam mengolah telur di antaranya dengan didadar, omelet, dan rebus. “Selama Anda memakannya secara utuh, Anda akan mendapatkan semua nutrisi baik dari telur,” kata Zeitlin.