Mitos Tentang Makanan Organik


Pertanianku — Banyak yang percaya, bahan makanan organik diklaim bebas pestisida dan lebih menyehatkan. Meski demikian, bukan berarti Anda hanya mengonsumsi makanan organik. Sebab, menurut ahli toksikologi, beberapa mitos tentang makanan organik yang beredar justru menyesatkan.

mitos tentang makanan organik
Foto: Google Image

Untuk itu, sebelum mengambil keputusan untuk makanan Anda, ada baiknya simak penjelasan sains terkait 4 mitos yang beredar terkait makanan organik seperti dilansir Kompas berikut ini.

  1. Makanan organik lebih sehat

Setelah pemerintah AS mengatur produk organik pada 1990, para pendukung mengklaim bahwa makanan organik membuat lebih sehat. Klaim yang sulit dipastikan ini justru menyesatkan.

Setelah menganalisis 240 penelitian tentang nilai gizi makanan organik, penulis sebuah penelitian 2012 yang diterbitkan dalam Annuals of Internal Medicine menyimpulkan bahwa mereka tidak menemukan secara signifikan makanan organik lebih bergizi daripada makanan konvensional.

  1. Makanan organik lebih aman karena bebas pestisida

Makanan organik haruslah bebas pupuk sintetis atau pestisida sebelum dipanen. Namun, bukan berarti makanan organik benar-benar bebas residu pupuk. Pada 2011, USDA menunjukkan 39 persen dari 571 sampel makanan organik mengandung residu pestisida.

Ahli toksologi mengatakan bahwa pestisida belum tentu beracun bagi manusia. Selain itu, petani saat ini pun menggunakan pestisida yang jauh lebih sedikit daripada satu dekade yang lalu. Pestisida itu sendiri harus terbukti berdampak rendah pada kesehatan manusia.

Meski kandungan pestisida yang tinggi dapat menimbulkan masalah kesehatan, sisa residu yang tertinggal dalam makanan terbukti berulangkali tidak berpengaruh pada kesehatan. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tidak ada pestisida yang diizinkan dalam perdagangan pangan internasional dapat berisiko genetik bagi konsumen.

  1. Kandungan transgenik (GMO) berbahaya untuk dimakan

Genetically Modified Organisms (GMO) atau tanaman dengan genom yang telah ditambah dengan DNA dari organisme lain sudah mengubah secara permanen industri pertanian. Para ilmuwan telah menciptakan varietas tanaman rekayasa genetika yang mengandung gen untuk melindungi dari hama, gulma, bahkan virus tanaman tertentu.

Baca Juga:  Teknik Budidaya Jamur Kuping dengan Media Serbuk Gergaji

Perdebatan soal keamanan GMO ini masih terus muncul meski dibuat pertama kali 23 tahun lalu. Perlu diketahui, GMO tak selalu pada penggunaan tidak wajar yang direkayasa secara sintesis, tanaman jenis ini juga memanfaatkan proses alami.

Ketakutan pada transgenik memengaruhi kesehatan memberi konsumen alasan untuk mengonsumsi organik. Padahal, sampai saat ini tak ada bukti yang dapat dipercaya bahwa tanaman rekayasa genetik dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia.

  1. Tanaman rekayasa genetika buruk bagi lingkungan

Kelompok yang menentang tanaman rekayasa genetika tak hanya menyebut hal ini buruk untuk kesehatan, tetapi juga bagi lingkungan. Tapi kenyataannya, secara keseluruhan hal ini tidak menyebabkan kerusakan pada lingkungan.

Penelitian 2016 menemukan bahwa tanaman GMO benar-benar dapat mengurangi jumlah pestisida yang dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah produksi tanaman. Sementara itu, penelitian 2014 menemukan bahwa tanaman hasil rekayasa genetika memiliki hasil 22 persen lebih banyak daripada varietas non-GM.