Nilai Rupiah Melemah, Harga Pakan Ternak Alami Kenaikan


Pertanianku Harga pakan ternak alami kenaikan. Seperti dikatakan Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, hal itu dikarenakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah.

Harga pakan ternak
Foto: Google Image

Pakan ternak impor yang dimaksud antara lain bungkil kedelai (soybean meal) dan tepung tulang/daging (meat bone meal). Pada 2017, harga rata-rata bungkil kedelai sebesar 390 dolar AS per metrik ton dan rata-rata harga 2018 sebesar 422 dolar AS per metrik ton atau naik sebesar 8,20 persen.

Namun demikian, berdasarkan konfirmasi dari Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) kenaikan harga pakan hanya sekitar 2—3 persen. Hal ini terjadi karena ketatnya persaingan antarprodusen dan masih adanya stok bahan pakan di produsen.

“Komunikasi dan koordinasi antara unsur-unsur pemerintah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha dan, Asosiasi Produsen Pakan, Asosiasi Peternak Unggas terus dilakukan, untuk menjamin terwujudnya sinergi antar-stakeholders pakan, untuk terwujudnya kesejahteraan peternak,” kata Direktur Pakan Ditjen PKH, Sri Widayati, dalam keterangan tertulis, Senin (2/7).

Dalam formulasi pakan untuk ternak, penggunaan bahan pakan lokal masih mendominasi sekitar 65 persen dalam bentuk jagung, dedak, crude palm oil (CPO) dan lain-lain.

Sisanya sekitar 35 persen, seperti bungkil kedelai (porsinya 23 persen), tepung tulang/daging dan premiks, masih belum dapat diproduksi di Indonesia karena alasan efisiensi.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (2/7) sore, ditutup melemah sebesar 60 poin menjadi Rp14.390 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.330 per dolar AS.

Baca Juga:  Mendag Sebut Minyak Sawit Mentah RI Masih Jadi Primadona di Spanyol