Nilai Tukar Petani Turun 0,58 Persen Februari ini


Pertanianku – Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data bahwa pada Februari lalu nilai tukar petani (NTP) turun sebanyak 0,58 persen atau sebesar 100,33. Padahal bulan sebelumnya sebesar 100,91. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, penurunan NTP karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,24 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,34 persen.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Semakin tinggi angka NTP, semakin baik pula daya beli petani.

Penurunan NTP Februari 2017 dipengaruhi oleh turunnya NTP pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,61 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,04 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,04 persen, dan subsektor peternakan sebesar 0,28 persen. Sementara itu, subsektor perikanan justru mengalami kenaikan NTP sebesar 0,3 persen.

“Seluruh subsektor turun kecuali perikanan,” kata Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, seperti melansir Republika (3/3).

Indeks harga yang diterima petani (It) yang turun sebesar 0,24 persen lebih disebabkan oleh penurunan It untuk subsektor tanaman pangan sebesar 1,17 persen dan subsektor peternakan sebesar 0,05 persen. Adapun subsektor yang mengalami kenaikan adalah tanaman hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, dan subsektor perikanan.

Sementara itu, melalui Indeks harga yang dibayar petani (Ib) bisa dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh petani atau masyarakat perdesaan. Pada Februari 2017, secara nasional Ib naik sebesar 0,34 persen dibanding Januari 2017. Kenaikan Ib secara nasional didorong oleh kenaikan Ib di subsektor tanaman pangan sebesar 0,45 persen, tanaman hortikultura 0,39 persen, perkebunan rakyat 0,25 persen, dan peternakan sebesar 0,23 persen. Adapun subsektor perikanan juga naik 0,27 persen.

Baca Juga:  Ini Alasan KKP Stop Impor Ikan Nila

Penjelasannya, di subsektor tanaman pangan, harga palawija (khususnya jagung dan ketela pohon) di tingkat petani mengalami penurunan 0,68 persen. Sementara itu, harga jual di tingkat petani untuk gabah juga menurun 1,27 persen.

Dari 33 provinsi yang dilakukan survei oleh BPS, ada 18 provinsi yang NTP-nya menurun, sedangkan 15 provinsi lainnya mengalami kenaikan NTP. Penurunan NTP terbesar terjadi di Jawa Timur sebesar 1,27 persen dan sebaliknya, kenaikan NTP tertinggi terjadi di DKI Jakarta sebesar 1,17 persen.

Di subsektor hortikultura, kenaikan It disebabkan oleh naiknya harga sayur-mayur seperti cabai rawit dan bawang merah yang naik rata-rata 0,53 persen. Sementara itu, harga komoditas karet dan sawit untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat juga mengalami kenaikan 0,25 persen.

loading...
loading...