NTT Dinilai Mampu Jadi Sentra Garam Tanah Air


Pertanianku – Salah satu solusi langkanya garam yang terjadi beberapa hari ini adalah membuat sentra produksi baru daerah penghasil garam. Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai berpotensi menjadi salah satu daerah sentra produksi garam dalam negeri.

Beberapa indikator yang membuat NTT layak dijadikan sentra industri garam, salah satunya karena beriklim panas dengan curah hujan rendah sehingga proses produksi garam dapat berjalan dengan baik.

Indikator lain, dari aspek potensi, produksi garam di NTT sangat besar bahkan dua kali produksi garam di Madura. “Kalau di Madura 60 ton per hektare, di NTT bisa mencapai 120 ton per hektare atau dua kali lipat,” kata pengamat ekonomi James Adam, sebagaimana melansir Republika (1/8).

Menurut James jika potensi itu dikembangkan, maka bisa memenuhi kebutuhan nasional yang selama ini masih didatangkan dari luar (impor). Anggota IFAD (International Fund for Agricultural Development) untuk program pemberdayaan masyarakat pesisir NTT ini mengatakan, persediaan garam di sejumlah daerah mulai terganggu akibat produksi garam yang mengalami penurunan.

Hal tersebut mengakibatkan beberapa industri kecil pengasinan ikan dan telur asin mengurangi bahan baku garam dalam proses produksinya serta bagaimana tingkat produktivitas garam di daerah, apakah ada upaya memacu produksi garam melalui perluasan lahan atau penerapan teknologi baru.

Jika kita melihat potensi pengembangan garam di NTT, PT Garam (Persero) sedang menggarap 400 hektare di Teluk Kupang dan sudah menghasilkan, 1 hektare bisa mencapai 120 ton. Garam tersebut, katanya, juga berkualitas tinggi karena didukung dengan kondisi laut yang biru dan panasnya panjang.

Saat ini menurutnya, Indonesia masih mengimpor garam dari luar dengan besaran mencapai 6 juta ton per tahun. Padahal, secara potensi, sebenarnya tidak perlu impor. “Pemerintah ‘kan sudah menginginkan agar angka impor bisa turun signifikan dengan mengandalkan dari dalam negeri dan karena itu lahan yang paling cocok di Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Baca Juga:  Kunjungan Wisatawan Pulau Komodo Perlu Ditata Ulang

Bayangkan, kata dia, potensi areal garam di Kabupaten Malaka sekitar 30 ribu hektare, di Teluk Kupang 8.000 hektare, Kabupaten Rote sekitar 1.000 hektare. Selain itu, Kabupaten Ende 2.000 hektare, di Reo hampir 5.000 hektare, dan Nagekeo sekitar 1.000 hektare. Oleh karena itu, apabila pemerintah akan menyiapkan aturan terkait tata niaga impor garam dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, akan sangat mendukung tekad NTT menjadi sentra produksi garam karena potensinya memungkinkan.

loading...
loading...