Inovasi Teknologi Lampu LED Menghemat Biaya Budidaya Krisan


PertaniankuKrisan adalah sejenis tumbuhan berbunga yang sering ditanam sebagai tanaman hias pekarangan rumah atau sebagai bunga petik.

Krisan
Pixaba

Krisan tergolong tanaman berhari pendek fakultatif yang membutuhkan periode cahaya (day length) lebih dari batas kritisnya, yaitu 14 jam guna memenuhi pertumbuhan vegetatif.

Maka dari itu, kebutuhan periode cahaya untuk budidaya krisan di daerah tropis seperti Indonesia tidak dapat dipenuhi oleh cahaya matahari alami (neutral day length). Sebab, cahaya matahari di Indonesia tersedia rata-rata kurang dari 12 jam sehari.

Penambahan cahaya perlu dilakukan, yaitu dengan pencahayaan buatan dari lampu listrik di malam hari. Penambahan tersebut kurang lebih 4 jam/hari dengan intensitas pencahayaan optimal berkisar 70—100 lux. Untuk itu, teknologi budidaya krisan hemat sumber energi sangat diperlukan.

Seiring dengan kemajuan teknologi lampu penerangan, sumber pencahayaan dari lampu LED memberikan alternatif sebagai lampu hemat energi. Selain itu, lampu LED juga mempunyai usia pakai lebih lama.

Penggunaan lampu LED merupakan terobosan di bidang teknologi penambahan pencahayaan dalam budidaya krisan. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan dengan lampu LED 11 watt sama dengan tanaman dengan lampu fluorescent 23 watt.

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan lampu LED mempunyai hasil yang sama dengan lampu fluorescent. Terutama, apabila tarif dasar listrik (TDL) yang digunakan termasuk golongan R-l dengan tarif Rp1.496/KWH.

Untuk satu buah lampu yang menyala 4 jam/hari selama 30 hari, biaya pemakaian listrik jenis lampu fluorescent 23 watt kurang lebih Rp4.128. Sementara, biaya untuk jenis lampu LED 11 watt kurang lebih Rp2.303.

Dihitung dari biaya penambahan panjang hari, penggunaan lampu LED 11 watt lebih efisien 50—55% dibandingkan dengan lampu flourescent 23 watt.

Baca Juga:  Paduan Steak dan Keju Berikan Pengalaman Kuliner yang Menarik
loading...
loading...