Panen Udang Windu 40 hari dengan Pakan Alami Phronima

Pertanianku — Udang windu sejak dahulu hingga saat ini merupakan komoditas ungulan yang digemari masyarkat karena harga jualnya terus meningkat. Pada 2005 ditemukan populasi pakan alami Phronima Suppa (Phronima sp), jenis mikro crustacea yang hidup secara alami di Desa Wiringtasi dan Desa Tasiwalie, Kecamata Suppa, Pinrang.

pakan alami Phronima
foto: kkp.g.id

Phronima tidak ditemukan di luar tambak di luar kedua desa tersebut. Awalnya, masyarakat menyebut mikro crustacea tersebut dengan sebutan were. Were berasal dari bahasa Bugis yang berarti anugerah, berkat, atau rahmat. Hal ini karena pakan alami tersebut membawa keberkahan bagi pembudidaya udang yang kala itu masih mengalami keterpurukan karena degradasi mutu lingkungan, infeksi pathogen, dan manajemen budidaya yang buruk.

Dilansir dari mfacepusluh.bpsdmkp.kkp.go.id, Phronima Suppa mengandung nutrien dan berperan penting membangun sistem imunitas internal pada udang. Selain itu, pakan alami tersebut berperan memperbaiki struktur tanah dan lingkungan perairan.

Berdasarkan hasil analisis proksimat, Phronima Suppa mengandung air 15,2 persen, abu 30,26 persen, protein 38,74 persen, lemak 23,58 persen, serat kasar 12,22 persen, dan betn 0 persen.

Pakan alami ini dapat dikembangbiakkan di dalam kolam tambak. Kolam tersebut perlu dikeringkan terlebih dahulu dan diberikan saponin untuk membasmi hama-hama yang ada di dalam kolam. Selanjutnya, tambak diberikan kapur bakar 500—1.000 kg/hektare, bergantung pada tingkat keasaman tanah dasar tambak. Selanjutnya, tambak diberikan pupuk urea 100 kg/hektare, TSP 50 kg/hektare, ZA 50 kg/hektare, dedak 300 kg/hektare, dan pupuk cair organik 5 liter/hektare.

Dedak yang akan diberikan harus difermentasikan terlebih dahulu selama 3—4 hari dengan ragi roti dan molase. Setelah itu, tambak baru bisa diisi air dengan ketinggian 30 cm di atas pelataran tambak.

Baca Juga:  Langkah Mudah Budidaya Ikan Gabus

Saat plankton sudah terlihat tumbuh, tebar induk atau bibit phronima sebanyak 3 liter yang didapatkan dari stok phronima yang berasal dari tambak lain. Populasi phronima yang sudah dikultur 20 hari cukup untuk diberikan kepada 20.000 ekor udang. Oleh karena itu, tokolan udang yang sudah berumur 20 hari sudah bisa dipindahkan ke kolam yang sudah dipenuhi oleh populasi mikro crustacea.

Udang yang sudah dipelihara selama 40 hari sudah bisa dipanen sebanyak 200—250 kg/hektare dengan ukuran bobot 16—20 gram/ekor atau sekitar 50—60 ekor/kg. Hal ini dikarenakan pakan alami ini dapat menyediakan nutrien, membentuk imunostimulan, dan memperbaiki lingkungan budidaya sehingga sesuai dengan kebutuhan udang windu.