Pari Kikir, Ikan Bernilai Ekonomi Tinggi yang Terancam Punah

Pertanianku Pari kikir atau pari kekeh merupakan salah satu ikan laut yang bernilai ekonomi cukup tinggi. Bagian yang paling sering dimanfaatkan adalah siripnya. Harga sirip ikan pari kikir sama tingginya dengan sirip hiu di pasar internasional.

pari kikir
foto: kkp.go.id

Di beberapa negara, ikan ini termasuk salah satu primadona. Nama ilmiah dari ikan ini adalah Glaucostegidae dan memiliki enam spesies. Dua di antaranya berada di Indonesia, yaitu Galucostegus typus dan Glaucostegus thouin.

Glaucostegus thouin bisa tumbuh hingga sepanjang 300 cm, ikan ini tersebar luas di Indo-Pasifik Barat dari India hingga Kalimantan. Habitat ikan ini berada di dekat pantai hingga laut dengan kedalaman 60 meter.

Galucostegus typus bisa tumbuh hingga sepanjang 270 cm, ikan ini tersebar luas di Indo-Pasifik Barat dari India ke Australia dan utara ke Taiwan. Ikan dapat ditemukan di daerah perairan pesisir dan landas kontinen yang berada di dekat pantai hingga kedalaman 100 meter. Ikan betina bisa hidup selama 19 tahun dan memasuki usia dewasa ketika sudah berumur tujuh tahun.

Karena bernilai ekonomi dan banyak dicari, penangkapan ikan pari kikir menjadi sangat intens sehingga menyebabkan jumlah populasinya di alam bebas menurun. IUCN (International Union of Conservation of Nature) sudah memberikan ikan ini dengan kategori CR (critically endangered) atau ikan yang terancam punah karena penurunan jumlah populasi yang signifikan selama beberapa waktu.

Pasalnya, penurunan populasi ikan pari kikir di Indonesia sudah terjadi sebesar 90 persen dalam kurun waktu 10 tahun. Saat ini jumlah pari kikir di alam bebas diperkirakan kurang dari 50 individu.

Penurunan populasi yang terjadi begitu cepat tidak sebanding dengan kemampuan ikan untuk berkembang biak. Ikan baru bisa berkembang biak setelah berumur 13 tahun dan baru akan maksimal ketika berumur 15 tahun.

Baca Juga:  Cara Melindungi Kebun Karet dari Rusa dan Kijang

Namun, sayangnya masih banyak nelayan yang menangkap ikan ini, seperti nelayan yang berada di daerah Tegal, Pati, dan Rembang. Jika penangkapan ikan terus dibiarkan dan tidak ada tindakan tegas, dikhawatirkan akan terjadi degradasi habitat dan ekosistem di kawasan pesisir.